Minggu, 24 Januari 2016

Analogi Sekitar, Belajar dari Sebuah Jam


Hidup ini seperti film. Ada cerita dalam setiap masa. Kadang di suatu titik waktu, sengaja atau tidak, kita melakukan preview atas peristiwa di masa lalu.

Segala macam rasa, mulai dari senang, sedih, tawa, marah, kecewa, ragu, dan cemas tak ubahnya merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu dalam pelangi. Mereka berselfie bersama dan nampak indah di langit. Warna-warna yang sebenarnya hanyalah uraian dari satu warna, yakni putih. Sama halnya dengan segala rasa yang kita alami. Semuanya mengkerucut pada satu hal, yakni hidup.

Jika kita bisa memaknai setiap peristiwa yang terjadi, tentu kita tak perlu gelisah. Senang sedih dalam hidup seperti halnya nada rendah dan tinggi yang terharmonisasi dalam sebuah lagu. Akan sangat membosankan pastinya jika sebuah lagu hanya terdiri dari satu nada saja. Bersyukurlah dengan apapun yang terjadi pada diri kita karena itu merupakan penggalan nada yang membuat hidup kita kelak terdengar indah.

Apa yang telah kita lalui tak jauh beda dengan buku ulangan harian saat SD. Ada nilai-nilai dengan beragam angka. Ada lembaran dengan banyak coretan merah dan ada lembaran yang tanpa coretan. Kita hanya bisa memandanginya sekarang tanpa bisa mengubahnya.

Sementara hidup hari ini adalah lembaran kosong yang akan kita tentukan goresan seperti apa untuk mengisinya. Esok masih gelap karena kita tak pernah tahu apa esok kita masih terjaga? Namun merangkai mimpi atau menyiapkan sesuatu untuk hari esok sangatlah dianjurkan.

Ada satu titik di mana kita terpaksa berhenti melihat ke belakang. Tertegun dan mungkin diikuti dengan kesedihan serta penyesalan. Tidak salah, tapi coba lihat ke titik yang lain di mana kita pernah bangga dengan diri kita dan apa yang kita lakukan. Ya, alangkah baiknya jika kita bersedih, kita lihat jam dinding yang ada di rumah kita. Lihat berapa banyak waktu yang kita habiskan hanya untuk bersedih?

Waktu kita, hidup kita, terlalu berharga untuk dihabiskan hanya untuk bersedih. Ingatlah bahwa kita pernah berbuat sesuatu yang luar biasa dan pastikan bahwa kita masih bisa melakukan itu sekarang. Melakukan hal positif untuk hidup kita dan untuk orang banyak.

Tirulah jarum jam. Dia akan terus berputar maju meski melewati angka yang sama. Dia tidak berhenti kecuali baterainya habis. Artinya apa? Kita tak akan pernah bisa menghapus kenangan tapi kita bisa beranjak dari kenangan.

Diri kita bukanlah komputer yang bisa kita hapus chache-nya. Kita juga tak mungkin merestart diri kita layaknya bermain game saat kita sudah mau mati.

Kita adalah mahluk yang bisa berpikir dan bisa merasa. Kita tidak dikendalikan program layaknya komputer. Kitalah yang harus bisa mengendalikannya. Mengendalikan keadaan yang kita jumpai. Mengendalikan keadaan di sekitar kita.

Jangan pernah merasa minder. Setiap kita punya kualitas. Kualitas seperti apa? Hanya diri kita sendiri yang tahu. Bergeraklah seperti jarum jam. Jangan terlalu lama berhenti sehingga waktu meninggalkanmu.

Mungkin kita pernah terluka parah. Cerita hidup bahkan tega membanting kita berulang kali. Membawa kita dalam situasi terjepit. Tapi percayalah kawan, itu bukan akhir. Kita hanya perlu lebih meyakinkan diri kita. Kita ini mampu. Kita ini sangat kreatif. Ya, seperti cerita di Dragon Ball di mana setelah terluka parah dan terdesak justru bisa menjadi Super Saiya yang kuat. Kita pun harus demikian. Mengalahkan rasa takut yang ditimbulkan lingkungan kita ataupun diri kita sendiri. Lalu meraih apa yang kita inginkan.

Optimislah kawan. Allah telah menggaransi bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan lewat surat Al-Insyirah ayat 6. Cayo!

***

Tulisan ini tak akan pernah ada tanpa inspirasi dari cerita-cerita sahabat-sahabat baikku, baik ketika kuliah maupun bekerja di Jakarta. Namanya kali ini tidak saya cantumkan agar tidak mengundang polemik. Hehehe. Tulisan yang seharusnya juga memotivasi penulisnya. Tapi....???

Menjalani tidak semudah menulis. Wkakakaka...


Senin, 07 Desember 2015

Pilihan


Seperti menanam padi di gurun
Atau menumbuhkan kaktus di gunung


Seperti memelihara lele di akuarium
Atau mencemburkan mas koki ke tambak


Seperti memakai jaket di pantai
Atau mengenakan bikini di gunung


Hidup itu tersedia aneka pilihan
Pilihan tepat membuat tumbuh cepat
Pilihan pas membuatnya nampak pantas


Tapi tak ada yang bisa menyalahkan
Kalau lele tetap bisa hidup di akuarium


Seperti pria tak mampu menolak
Jika seorang wanita berbikini di gunung


Meski pasti banyak yang menyalahkan
Kalau mas koki hanya bertahan beberapa jam


Karena hidup selalu tentang pilihan
Memilih dan dipilih
Atau tidak dipilih


Dan pilihan itu tak datang sendiri
Ia mengangkut persepsi sebagai aditifnya

Malam dan Hujan



Malam itu meneduhkan
Hujan itu  menyejukkan


Malam itu menyandarkan letih
Hujan mengajarkan sabar


Waktu malam, kita menanam mimpi
Waktu hujan, kita merenungi arti


Kalau sekarang gelap
Itu tak akan lama
Karena pagi menjanjikan mentari


Kalau sekarang dingin
Itu sekedar menyadarkanmu
Agar kau tak menyiakan mentari

Rabu, 18 November 2015

Memaknai Istilah Senggol Bacok


Semarang adalah salah satu kota yang miskin konflik. Apa penyebabnya? Budaya Jawa yang kuat melekat dan membentuk karakter penduduknya. Budaya Jawa seperti ramah, sopan, dan menjunjung tata krama menjadi pondasinya. Ditambah budaya “ewuh pekewuh” sebagai bagian dari pengendalian diri orang Jawa. Hingga sangat kecil niat untuk menyakiti orang lain.

Namun hal ini jangan disalah artikan untuk berbuat sewenang-wenang terhadap orang Jawa. Mereka pun bisa bertindak kejam jika diperlakukan seperti itu. Apa landasan ini? Jika kita memperhatikan dalam pakaian adat jawa, di mana menyelipkan keris di bagian belakang, ini mengindikasikan hal tersebut. Maksudnya? Orang Jawa akan selalu bersikap baik dengan siapapun. Mereka menjadikan senjata bukan untuk gagah-gagahan ataupun menakuti. Hanya sebagai alat perlindungan diri. Hanya dalam kondisi terdesak saja keris itu terlepas dari sarungnya.

Karakter orang Semarang pun tidak bisa dijauhkan dari filosofi tadi. Orang Semarang tidaklah selembut orang Jogja atau Solo. Perpaduan nilai dengan berbagai budaya lain akibat menjadi kota pesisir penyebabnya. Namun Semarang juga tidak sekasar Jawa Timuran dalam tata pergaulan.

Di Semarang, ada suatu kampung yang cukup terkenal dengan istilah “senggol bacok”. Istilahnya terdengar mengerikan meski sebenarnya lebih ke arah pesan, “Jangan melukai atau mengganggu, kalau tidak ingin dilukai”. Kampung itu letaknya 6-7 kilometer dari kampungku. Beberapa temanku tinggal di sana.

Saat SMA, aku memaknai istilah “senggol bacok” dan menunjukkannya secara harfiah. Jiwa muda dengan emosi yang masih meletup-letup dan hasrat menunjukkan eksistensi yang masih tinggi menjadi dua hal yang melatarbelakanginya. Namun dengan meningginya tingkat pendidikan, bertambahnya usia, dan status pekerjaanku sekarang, aku tidak lagi mengekspresikan secara harfiah istilah tadi. Ada rasa malu jika bertindak demikian. Sebab jika aku masih bertindak seperti itu, apa bedanya aku dengan preman pasar?

Aku akan memilih cara-cara yang elegant tanpa mengurangi makna. Siapa yang melukai, berarti telah siap dilukai. Siapa yang mengganggu, berarti telah siap diganggu.

Saat fisik kita disakiti ataupun dipermalukan, kita tidak perlu membalasnya dengan hal serupa bukan? Meski saat itu terjadi, harga diri kita pasti terkoyak. Cukup itu menjadi alasan untuk tidak berdiam diri.

Lantas apakah "senggol bacok" sama artinya dengan balas dendam? Tentu saja tidak. “Senggol Bacok” sejatinya hanyalah himbauan bernada keras. Sedangkan suatu himbauan hendaknya dipatuhi. Jika tidak, tentu ada konsekuensi logis. Siapa yang menanam kebaikan, akan memanen kebaikan pula. Begitu juga sebaliknya.

Analogi  kerja "senggol bacok" tak ubahnya sebuah rautan. Saat ada pensil yang menusuknya dalam, saat itu pula ia akan merautnya.

Sabtu, 14 November 2015

Mengapa Perlu Jadi Pengusaha?


Sejatinya hidup adalah pilihan, apakah akan bekerja pada pemerintah, orang lain, maupun usaha sendiri. Masing-masing alasan yang menyertainya tidak bisa disalahkan. Namun kalau boleh mengurai sedikit alasan mengapa perlu jadi pengusaha, maka inilah alasannya:
  1. Ada seni tersendiri
Saat kita bekerja ikut orang lain, maka jobdesk kita sudah ditentutakan atau diatur, tetapi saat kita usaha sendiri kitalah yang menentukan jobdesk kita sendiri, bahkan arah gerak usaha mau bagaimana sangat tergantung kelihaian kita membaca situasi. Tentu akan saja ada kendala ataupun hambatan dalam berusaha. Namun disinilah seninya. Upaya kita menghadapi berbagai kendala itu untuk terus melaju akan menghasilkan cerita yang indah kelak. Seperti banyak cerita sukses pengusaha yang lantas menuliskan autobiografinya.
  1. Dapat memaksimalkan keuntungan
Saat kita bekerja ikut orang tentu pendapatan kita sesuai dengan kesepakatan kita di awal bekerja yang dikenal dengan gaji. Ketika perusahaan meraih untung luar biasa, tetap saja yang kita peroleh berupa gaji. Kalau soal bonus itu mungkin, tapi lebih baik tidak terlalu berharap untuk sesuatu yang bersifat sukarela perusahaan.

Sementara jika kita membuka usaha sendiri, saat usaha kita laris atau ramai, tentu keuntungan yang kita dapatkan juga meningkat mengikuti sejauh mana larisnya usaha kita. Namun jika merugi, bisa menjadi sangat merugi, apalagi masih harus tetap menggaji karyawan yang ikut kita. Namun itulah resikonya. Bekerja pada orang pun saat perusahannya merugi, bayang-bayang akan PHK juga mengintai.
  1. Menyiapkan pekerjaan anak kita kelak
Kelak persaingan kerja di masa depan akan menjadi lebih ketat. Apalagi situasi ekonomi negara yang semakin tidak jelas akan berdampak sangat pada sektor usaha dan penyerapan tenaga kerja. Belum lagi jika tenaga kerja asing dengan skill menengah turut didatangkan seperti isu yang saat ini beredar, semakin sempit saja peluang kerja.


Rasanya tak ada orang tua yang menginginkan anaknya kelak kesusahan bekerja. Meskipun ini terdengar seperti nada pesimis pasalnya siapa tahu anak kita kelak punya kemampuan di atas rata-rata yang justru sangat mudah memilih pekerjaan. Ibarat pepatah, sedia payung sebelum hujan jauh lebih baik daripada mencari payung saat sudah hujan. Cukuplah orang tuanya yang susah payah merintis usaha, jatuh bangun menghadapi beragam kendala. Biarkan anak kita nanti punya banyak pilihan. Memilih bekerja sesuai minatnya, memilih bekerja sesuai perusahaan / instansi yang menerimanya, memilih melanjutkan usaha orang tuanya, atau memilih merintis usaha baru yang sesuai minatnya. Poin pentingnya adalah kelak kita tak membiarkan anak kita begitu mengemis terhadap pekerjaan.
 
Kiranya itulah segelintir alasan mengapa perlu jadi pengusaha. Mungkin akan ada alasan-alasan lain yang menyertai, tapi setidaknya tiga alasan di atas merupakan sokogurunya. Hahaha... Sudah minat sekarang berusaha? Ayolah... Kita hanya tahu jalan di depan rusak saat kita telah berjalan, bukan saat kita masih berdiam diri. Toh kalaupun jalan itu rusak, kita masih punya banyak cara untuk bisa melewatinya bukan?!

Selasa, 02 Juni 2015

SNG dan Petuah Bijak


            SNG atau dalam bahasa awamnya dikenal dengan liputan news daily, yaitu sebuah liputan untuk menyampaikan informasi terbaru kepada masyarakat secara live. Tugas SNG merupakan salah satu tugas yang didalamnya banyak ketidakjelasan, baik soal waktu maupun tempat. Jika ada kejadian luar biasa, jangan harap bisa pulang cepat, tak jarang justru harus siap untuk digeser ke luar kota.

            Namun tak perlu membahas pekerjaan di sini karena pasti jadi nggak asyik. Lalu apa dong yang mau dibahas? Bahas yang ringan-ringan aja dan renyah. Apa itu? Asmara? So pasti! Tapi bukanlah drama atau roman yang akan diulas disini karena aku nggak bakat untuk nulis yang kayak gitu. Terus? Udah, baca dulu aja, jangan banyak nanya mulu! Hahaha…

            Perjalanan ke lokasi live terkadang memerlukan waktu yang lama, apalagi jika macet. Sembari menunggu tiba di lokasi, ada saja bahan obrolan yang mengemuka. Apa yang akan temen-temen baca berikut adalah obrolan yang berkesan buatku. Tepatnya, nasehat yang berkesan buatku.

1.        Pak Mamat TX

Dalam perjalanan menuju Istana Merdeka untuk live Konferensi Pers kenaikan harga BBM, tanpa ada angin tanpa ada hujan, Pak Mamat menasehatiku.

       “An, kalau milih cewek jangan yang cantik mukanya aja, tapi yang cantik hatinya”

          Tentu saja aku kaget mendengar Pak Mamat berbicara sebijak itu. Jauh sekali dari perangai kesehariannya. Padahal belum ada sebutir gorengan pun yang ia santap. Dia bercerita panjang lebar tentang ini itu. Aku menyimaknya sambil manggut-manggut aja. Meski perjalanan dari KPK menuju Istana terjebak macet, tetapi perjalanan itu tidak terasa membosankan.

2.        Yopi TX dan Andi ME

Tugas bersama dua orang pengantin baru tentu memberi konsekuensi tersendiri. Apalagi menempuh perjalanan jauh ke Istana Bogor untuk antisipasi adanya Konferensi Pers dari Presiden perihal kisruh Kapolri.

Sempat diwarnai insiden mobil mogok sehingga harus diganti, perjalanan pun dilanjutkan dengan lancar. Dua orang teman yang baru menikah itu pun angkat suara.

“An, kalau nikah mas kawinnya jangan seperangkat alat sholat sama Al-Qur’an kalau nggak siap sama konsekuensinya” kata Andi.

“Konsekuensinya berat” Yopi menimpali.

“Kalau seperangkat alat sholat, kamu harus bisa menjaga biar istrimu nggak ninggalin sholat. Kalau Al-Qur’an, kamu harus bisa mengajarkan Al-Qur’an kepada istrimu” terang Andi.

“Iya, aku tahu perihal konsekuensi itu. InsyaAllah nanti aku dan istriku kelak berusaha sama-sama untuk belajar dan saling mengingatkan” jawabku coba menanggapi.

3.        Frans ME

          Agak menyimpang sedikit, kali tidak dalam tugas SNG tetapi tugas program Damai Indonesiaku di Bogor. Om Frans mengingatkanku dan menasehatiku.

“An, kapan kamu nikah? Kerjaan udah ada, udah karyawan tetap, nunggu apalagi? Jangan ditunda-tundalah!” cerocos Om Frans.

Nomermu apa? Indosat apa Telkomsel? Ini aku ada kenalan” lagaknya coba membantu.

“Indosat Om” jawabku yang ingin mengikuti sejauh mana ia beraksi.

          Lalu dia mengeluarkan HP-nya. Dengan telunjuk, ia scrool nomer kontak yang ada. Lagaknya nampak meyakinkan bahwa ia memang berniat membantuku. Akhirnya telunjuknya pun mengetuk layar HP-nya.

“Ini An, Indosat. Semok dan banyak duitnya” kata Frans sambil menyodorkan HP-nya.

          Aku pun untuk menghormatinya, maka kutengok HP-nya. Ulalala… aku langsung shock. Ternyata yang ia perlihatkan adalah foto Mbak Heni, teman sedivisiku sendiri. Owalaaah… dasar Om Frans! Becanda mulu! Nggak pernah serius!
         
          Tapi makasih Om Frans atas perhatian dan nasehatnya. Langkahku masih panjang om, tak perlu buru-buru namun tak berarti menunda-nuda juga. Nanti kalau sudah menemukan yang cocok, pasti dikabarin.

4.        Irman UPM

Sebagai senior sekaligus mantan temen kosan, dia banyak memberiku nasehat. Tentu untuk hal-hal yang positif. Namun entah mengapa justru yang terkenang adalah nasehatnya yang nyeleneh.

“An, mumpung belum nikah, nakal-nakal dulu. Jangan sampai nakalnya telat, udah nikah baru nakal” katanya dengan intonasi layaknya memberi nasehat.

Kalau dinasehati seperti ini, aku jadi bingung. Pokoknya semoga kamu lancar aja deh dalam menyiapkan acara pernikahanmu sampai di hari H! Doakan aku agar bisa segera menyusul.

            Akhir kata, semua nasehat teman-teman ini pasti aku dengarkan dan akan aku jadikan sebagai pemicu semangat untuk menyempurnakan setengah agamaku. Terima kasih teman-teman. Sekedar tulisan iseng untuk menghabiskan liburan. Apabila ada kata yang kurang berkenan, dimaafkan aja yaa. Hehehe…


Sabtu, 04 April 2015

Warung Nasi Kucing, Warung Egaliter


            Warung nasi kucing atau sering disebut juga dengan nama kucingan atau angkringan jika di kota Yogyakarta, sejatinya merupakan warung sederhana dengan sebuah gerobak sebagai tempat menaruh beragam jenis makanan dan teko air. Dinamakan nasi kucing bukan berarti warung ini menyediakan daging kucing, melainkan karena porsi nasi yang disuguhkan menyerupai porsi nasi untuk memberi makan kucing.

            Menu nasi kucing biasanya adalah nasi pindang, nasi daging, nasi teri, nasi ayam namun semuanya dalam porsi yang mini. Sebagai pendamping, disediakan beragam jenis makanan, seperti gorengan, sate usus, sate bakso, sate kerang, paru, tempe dan tahu bacem, dan beragam makanan lainnya. Untuk minum, menu andalannya adalah susu jahe dan jahe hangat. Di samping tetap menyediakan minuman populer seperti teh manis dan kopi. Satu hal yang bikin bangga, makanan dan minuman yang tersaji semuanya fresh, asli buatan anak negeri, bukan impor.

            Warung ini banyak terdapat di pinggir-pinggir jalan. Buka dari jam empat sore hingga yang paling malam sampai jam dua dinihari. Pengunjung warung ini berasal dari banyak kalangan. Dari pelajar, mahasiswa, sopir bus atau truk, buruh pabrik, tukang batu, hingga karyawan-karyawan kantoran yang mentereng.

            Meskipun warung nasi kucing merupakan warung sederhana, berada di tempat yang sederhana, menjual makanan yang sederhana, tidak berarti warung ini hanya bernilai sederhana. Seperti pengunjung warung yang sudah saya sebutkan di atas. Berasal dari berbagai jenis profesi. Dari pekerja kasar sampai ke mereka yang bekerja kantoran. Mereka tetap makan makanan yang sama. Terkadang mereka berjejer duduk lesehan di atas terpal yang digelar ditrotoar atau area lapang disekitarnya.


            Lalu apa saja yang mereka lakukan? Tentu saja makan dan minum adalah hal yang pasti, sembari berbincang ngalor-ngidul tentang berbagai hal. Dari aktivitas mereka sehari-hari, rencana-rencana kecil mereka, sampai ke masalah pujaan hati. Namun ada beberapa hal yang hampir pasti tidak dilakukan di warung nasi kucing. Sangat mencolok bedanya jika dibandingkan dengan makan di tempat makan yang mentereng.

Lalu apa saja aktivitas yang berbeda itu? Yang pertama adalah selfie. Yang kedua tak jauh berbeda dari yang pertama, yaitu foto makanan. Serta yang ketiga adalah aktivitas iseng, seperti memandangi pengunjung lain yang kece.

Selfie di tempat makan adalah aktivitas yang kini lazim dilakukan setelah maraknya media sosial. Selfie biasanya dilakukan sebelum makanan datang, saat  makanan sudah datang, saat makan, dan setelah makan. Tak kalah ketinggalan adalah foto makanan. Biasanya aktivitas ini dilakukan setelah semua makanan yang dipesan terkumpul. Foto-foto itu kemudian diupload ke media sosial. Sedangkan untuk aktivitas memandangi pengunjung lain yang kece biasanya terjadi di tempat makan yang “wah”, di mana pengunjung yang datang telah berdandan maksimal.

Lantas mengapa aktivitas itu tidak terjadi di warung nasi kucing? Jawabannya sederhana. Karena sederhananya tempat mereka makan. Karena sederhananya menu makanan yang disajikan. Serta karena sederhananya dandanan pengunjung-pengunjung yang datang. Mereka biasanya mampir setelah pulang beraktivitas, meski tak jarang yang memang berniat ke warung nasi kucing saja.

Apa akibatnya? Akibatnya ialah mereka menjadi tidak sering-sering mengeluarkan HP yang mereka miliki, kecuali jika ada panggilan atau pesan. Hal ini tanpa disadari mempersempit jurang pemisah antara mereka yang mampu dan mereka yang biasa saja, antara mereka yang ber-HP bagus dan ber-HP biasa. Selain itu, dengan tidak adanya “obyek” menarik yang menjadi perhatian, otomatis perhatian tertuju kepada rekannya masing-masing.

Pada akhirnya aktivitas yang mereka lakukan pun sama, meski berasal dari kalangan yang berbeda. Dengan minimnya aktivitas menggunakan HP dan fokus pandangan yang tidak terbelah, maka berdampak positif pada meningkatnya intensitas obrolan diantara mereka. Tentu ini akan sangat baik untuk memupuk persahabatan menjadi lebih erat. Tak jarang ide segar atau rencana besar muncul dari obrolan sederhana, di tempat sederhana, dalam nuansa yang tenang di bawah payung malam yang meneduhkan.

Kawan, ada satu hal lagi yang perlu kita ketahui dengan lebih dalam. Sebenarnya apa motivasi orang-orang datang ke warung nasi kucing? Untuk makan atau minum? Yaph, sepertinya itu bukan jawaban yang salah. Tetapi ada hal yang lebih dari itu. Apa coba?

Mari kita telaah rencana-rencana. Orang yang malam-malam kelaparan tentu akan menemukan makanan yang mengenyangkan dan itu sulit dipenuhi di warung nasi kucing dengan porsi makannya. Dia bisa memilih makan di warung nasi goreng yang sama-sama buka malam hari. Orang yang ingin makan enak tentu tidak akan menjadi warung nasi kucing sebagai prioritasnya, tetapi bisa memilih warung seafood atau yang lainnya.

Lantas apa motivasinya orang-orang datang ke warung nasi kusing? Tak lain hanya untuk nongkrong. Warung nasi kucing dengan segala kondisinya memang layak untuk menjadi tempat nongkrong. Berada di tempat terbuka dengan tiupan angin yang sepoi-sepoi menciptakan suasana yang alami. Duduk lesehan sehingga menciptakan suasana kekeluargaan layaknya di rumah. Jauh dari hingar bingar musik jedag-jedug sehingga tiap obrolan lebih mudah dimengerti. Jauh dari nuansa hedonisme menjadikan tiap orang menjadi apa adanya. Berada di pinggir jalan yang mudah dijangkau dengan parkir yang tidak jauh dari tongkrongan. Waktu tutup yang bisa diulur sampai semua pengunjung pergi menjadi faktor kunci bersama harga makanan dan minuman yang terjangkau oleh kantong.

Dengan kondisi semacam itu, maka banyak orang menjadikan warung nasi kucing sebagai tempat tongkrongannya. Meski sebenarnya sebagian dari pengunjung itu mampu untuk nomgkrong di tempat yang lebih elite. Lagi-lagi keunikan nuansa di warung nasi kucing sebagai faktor pembedanya. Banyak hal yang lebih mengental di warung nasi kucing daripada di tempat yang lebih elite. Karena apa? Seperti yang tadi sudah saya jelaskan, karena di warung nasi kucing kita hanya fokus pada teman-teman kita sedangkan di tempat yang lebih elite, fokus kita bisa terbelah pada hal menarik lainnya yang terpampang di sana.

Warung nasi kucing, warung sederhana yang menanamkan nilai-nilai yang luar biasa. Orang dari berbagai kalangan boleh singgah, termasuk mereka yang jadi bos. Tetapi semuanya harus tunduk pada norma yang seolah-olah tumbuh di warung nasi kucing. Tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Semuanya sederhana, harus sederhana. Semuanya sama, diperlakukan sama dan melakukan hal yang sama. Itulah mengapa saya menyebut warung nasi kucing sebagai warung egaliter, warung kesetaraan. Di samping istilah warung persahabatan yang layak juga disematkan ke warung seperti ini.