Tampilkan postingan dengan label My Art My Soul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Art My Soul. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2018

Dua Hal


Balkon Kos Dinas Imigrasi Nomor 19, Taman Giri, Badung, Bali


03 November 2018 pukul 22.30 WITA sambil menikmati gemerlap lampu kota diiringi derap tetesan hujan, nyanyian tokek, dan semangkok pop mie.

 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Ada dua hal yang susah dikendalikan manusia...

Pertama, rotasi bumi...

Kedua, perasaan ketika hati telah tertaut...



Ada dua hal yang saat ini menjadi teka-teki viral...

Pertama, bagaimana Lion Air Jt-610 bisa jatuh?

Kedua, bagaimana aku bisa jatuh hati padamu?

Yang jelas, keduanya benar-benar terjadi...



Kalau hati ini ibarat talud...

Mungkin sebentar lagi akan jebol karena derasnya perasaan yang mengalir...



Kalau rindu itu ada label harganya...

Aku akan jadi orang yang bangkrut karena memborong rindu padamu...

Jadi... obatilah rinduku...

Atau kamu siap hidup bangkrut denganku.. ^^,

Senin, 12 Juni 2017

Menemukan Rasa



Kemarin…

Aku seperti berada di padang pasir

Sejauh mata memandang

Hanya hamparan pasir



Ke mana utara? Di mana selatan?

Tak mudah ku temukan

Tak mampu ku mengenal arah

Tersisa hanya tubuh yang lelah



Kering dan dahaga

Senantiasa jadi sahabat setia

Sepi dan sendiri

Tak ubahnya teman sejati



Kakiku terus melangkah

Meski tak tahu ke mana

Sampai di ujung lelah

Baru sadar aku di mana



Sebentuk oase, terjejak oleh kakiku

Tak percaya, ku ayunkan tanganku

Ya, basah dan bergemericik

Yakinkanku ini bukan fatamorgana

Bukan ilusi mata yang fana



Kuteguk dan kurasakan segarnya

Seketika terkumpul lagi kepingan tenaga

Yang kemarin terkuras oleh nestapa



Mataku seakan tak percaya

Logikaku membisikkan bahwa ini realita

Aku temukan apa yang aku damba

Aku hidupkan yang sebelumnya angan belaka


 
Iya, ini nyata

Seperti saat kita bisa bersama

Iya, ini penuh haru

Saat aku menemukanmu



Seperti oase yang membasuhku

Kau segarkan hidupku

Seperti mentari yang mengangkasa

Kau tunjukkan arah bahagia



Tetap jadi oaseku yang mempesona

Memberi warna tak kasat mata

Namun terasa indah di jiwa

Terimakasih, sahabat luar biasa


Kamis, 23 Juni 2016

Rawamangun, 25 Mei




Rawamangun, 25 Mei
Tentang persahabatan, tentang harapan
Tentang keceriaan, tentang impian

Rawamangun, 25 Mei
Bongkahan waktu yang mudah dilupakan
Karena lidah begitu kegatalan

Rawamangun, 25 Mei
Tak lebih dari dongeng masa lalu
Yang layu tersapu waktu

Rawamangun, 25 Mei
Hanyalah kisah usang
Pemulung pun enggan memungutnya

Rawamangun, 25 Mei
Tak akan pernah terjadi lagi
Dan tak mungkin terulang lagi

Senin, 07 Desember 2015

Pilihan


Seperti menanam padi di gurun
Atau menumbuhkan kaktus di gunung


Seperti memelihara lele di akuarium
Atau mencemburkan mas koki ke tambak


Seperti memakai jaket di pantai
Atau mengenakan bikini di gunung


Hidup itu tersedia aneka pilihan
Pilihan tepat membuat tumbuh cepat
Pilihan pas membuatnya nampak pantas


Tapi tak ada yang bisa menyalahkan
Kalau lele tetap bisa hidup di akuarium


Seperti pria tak mampu menolak
Jika seorang wanita berbikini di gunung


Meski pasti banyak yang menyalahkan
Kalau mas koki hanya bertahan beberapa jam


Karena hidup selalu tentang pilihan
Memilih dan dipilih
Atau tidak dipilih


Dan pilihan itu tak datang sendiri
Ia mengangkut persepsi sebagai aditifnya

Malam dan Hujan



Malam itu meneduhkan
Hujan itu  menyejukkan


Malam itu menyandarkan letih
Hujan mengajarkan sabar


Waktu malam, kita menanam mimpi
Waktu hujan, kita merenungi arti


Kalau sekarang gelap
Itu tak akan lama
Karena pagi menjanjikan mentari


Kalau sekarang dingin
Itu sekedar menyadarkanmu
Agar kau tak menyiakan mentari

Selasa, 23 September 2014

Ketika itu...

Ketika keringat beriringan air mata
Ketika letih beriringan sesak
Ketika pandangku kosong
Hanya lembaran putih tersaji
Ke mana perginya harapanku?
Yang dulu kutanam di depan pandangku


Aah...
Hanya bisa menghela nafas
Berharap energi berkumpul di kaki
Agar bisa menapak lagi


Hidup tak bisa diterka
Angan bisa jadi kiasan
Hidup harus tetap dijalani
Meski kita tak mengerti


Ketika asa menguap
Ketika tubuh tercabik
Ketika pikiran tertindih
Nafas pun tersengal
Tertatih mencari oksigen yang tersisa


Dan aah...
Aku coba menghela nafas
Berharap energi berkumpul di kaki
Agar bisa menapak lagi
Mencari yang semestinya dicari
Menikmatinya...
Jika mungkin

Senin, 15 Oktober 2012

Promosi Dodol


Ini merupakan desain kemasan dan merk dari dodol rumput laut yang sudah direncanakan. Namun sayang karena belum berpengalaman dan salah resep, maka produksinya pun gagal total. Yang dapat diselesaikan dengan baik, hanya desain kemasan merk ini. Tapi nggak papa, sambil menunggu waktu yang tepat untuk produksi lagi, dipromosiin dulu aja. Siapa tau ada pesanan, langsung buat deh. Hyahaha... Mungkin nggak yaaa???

Bom Skripsi



Pembuatan gambar desain ini emang terinspirasi dari bom buku yang terjadi beberapa waktu lalu. Tapi tujuan utamanya bukan untuk mengebom dunk pastinya, melainkan untuk memotivasi diri agar segera menyelesaikan skripsi. Maklum, saat itu posisiku sudah diujung tanduk. Skripsi udah dua kali masuk KRS jadi harus selesai semester itu juga. Padahal kuesioner belum selesai semua, masih ada anggota dewan yang sulit banget ditemui, ditambah dosen pembimbing yang perfeksionis.

Untuk memotivasi gambar ini aku jadiin walpaper di laptop dan HP biar terus inget dan segera dikerjain. 
Tapi ngomong-ngomong udah ngerti bener belum sih detail gambar ini?

Gambar dinamit sudah tentu melambangkan bom. Gambar kotak sebagai tempat perangkat bom. Lalu angka di layar menunjukkan batas waktu bom untuk meledak. Di situ aku tulis 30:11 yang berarti tanggal 30 November skripsiku harus sudah beres karena aku harus sidang di bulan Desember. Sementara tulisan putih adalah konsekuensi yang harus diterima apabila belum selesai. Konsekuesinya pasti ada yang aku ledakkan. Apa itu kampus, gedung DPRD, atau Rusunawa yang ku teliti. Hehehe...

Tapi rencana busuk itu batal aku lakukan karena skripsiku udah beres tanggal 2 November. Jadi akhirnya yang meletus cuma kentutku aja. hehehe.....

No Colours



Ini logo yang gue buat sebagai tanda bahwa gue bersama sebagian kecil teman gue memilih untuk tidak tertarik pada dinamika politik kampus. Tidak berwarna membuat kami fleksibel berteman dengan siapapun. Namun kami juga bukan mahasiswa apatis, kami akan mengkritisi dan berusaha membenarkan jika memang terjadi hal yang salah atau tidak beres. Kami tidak diam, tapi juga enggan berkoar-koar. Tujuan kami bukan politik, kekuasaan, ataupun dukungan massa. Kami hanya ingin menikmati kuliah dengan nyaman, tanpa terkotak-kotak dan bebas bergaul dengan siapapun. Kami hanya sekumpulan anak santai yang lebih suka menghabiskan waktu dengan becanda daripada ribut mendoktrin orang. Bagi kami setiap orang harus bisa mengembangkan idealisme sendiri tanpa dicampuri atau diarahkan oleh idealisme yang sudah ada. Jika setiap orang dapat mengembangkan ide baru, maka perubahan nyata bisa terlaksana.

Rasaku Padamu


 
G                  Am      D
Pertama, kita jumpa
G                  Am  D
Sekilas, biasa saja
D                 Am D            Am
Tak istemewa, tak ada cinta
D                Am D     Am   C
Tapi mengapa, kini berbeda

G                       Am    D
Bersamamu, aku senang
G                   Am     D
Candamu, aku rindu
D                      Am D           Am
Mulai terganggu, lelap tidurku
D                   Am D           Am   C
Dengan mimpi, mimpi tentangmu

Reff:
G                           D
Tak bisa kupungkiri
G                        D
Rasa di dalam hati
  Em    D       Am      C      G
Aku kini sedang jatuh cinta
Em    D          Am       C    G
Terjerat lembutnya sikapmu
   Em    D      Am           C D    G
Aku ingin... kau menjadi milik...ku

Bridge:
D                  Am   D           Am
Rentetan kisah, di antara kita
D               Am D              Am  D       Am
Semoga jadi, awal pijakan, untuk cinta
D               Am    C
Untuk cintaaaa....

Kembali ke reff.