Selasa, 20 November 2012

Mistic? Believe or Not?



            Kejadian ini baru saja saya alami, tepatnya pada hari Jum’at satu minggu yang lalu. Pada hari itu saya hendak memenuhi undangan wawancara dari sebuah perusahaan otomotif yang berkantor di Yogyakarta. Wawancara saya dijadwalkan pukul 10.30 dan saya pun berangkat dari rumah pada pukul 06.50.

            Waktu yang sangat mepet dengan jarak tempuh perjalanan Semarang-Yogyakarta membuat saya memacu belalang tempur saya dengan kecepatan tinggi. Rata-rata kecepatan saya 100 km/jam. Ini saya lakukan agar ada jeda sampai di tempat tujuan sekaligus memberi space apabila terjadi hal yang tidak diinginkan di jalan, misalnya ban bocor. Semua berjalan lancar dan target waktu tempuh untuk setiap daerah telah terpenuhi.

            Memasuki Ambarawa sudah menunjukan pukul 07.50. Jalanan lumayan sepi sehingga saya dapat menjalankan kendaraan saya dengan kecepatan yang stabil seperti di atas, kecuali pada tikungan atau di belakang kendaraan berat. Saat saya melalui jalanan lurus secara otomatis naluri saya  mencoba memaksimalkan kecepatan apalagi jalan di depan saya kosong. Hingga secara mendadak ada bus yang tiba-tiba berhenti untuk menaikkan penumpang. Jarak saya dengan bus tersebut kurang lebih 10 meter. Otomatis saya segera mengerem motor saya. Tapi apa yang terjadi, rem belakang saya tiba-tiba blong dan sama sekali tidak berfungsi. Injakannya sangat dalam sementara jarak saya dengan bus semakin mendekat. Secara naluri saya pun segera mengarahkan motor saya ke kiri, keluar dari jalan raya dan melintasi tanah di pinggirnya. Saya tidak berani hanya mengerem dengan rem depan karena itu sangat berbahaya bagi saya.

Saat motor saya terus melaju untuk menghabiskan sisa gas, saya berharap tidak ada kendaraan yang melintas dari gang yang posisinya 90 derajat di sisi kiri jalan. Namun dugaan saya salah, dari dalam gas tersebut muncul sepeda motor. Untung saja melaju dengan kecepatan rendah sehingga motor saya dapat melintas mendahuluinya. Namun bukan hanya sepeda motor, muncul beberapa orang juga yang berjalan keluar dari gang di depan sepeda motor tersebut dan beberapa orang yang bergerak untuk naik bus. Dengan hanya mengandalkan kepasrahan, sambil berharap-harap cemas, saya berusaha mengendalikan motor saya agar tidak menabrak siapapun. Akhirnya saya berhasil melintas di depan orang yang berjalan keluar dari gang dan berhenti di belakang orang yang mau naik bus. Saya pun berhenti sejenak karena memang shock.

Saya langsung mengecek rem saya. ternyata memang blong dan sangat dalam injakannya tanpa berfungsi sedikit pun untuk mengerem. Karena rem belakang saya cakram, saya belum berpengalaman menangani hal seperti ini. Jika pada tromol, dapat diatasi dengan mengencangkan baut rem. Namun cakram kan tidak seperti itu. Agak aneh juga jika rem cakram tiba-tiba blong tanpa ada tanda-tanda sedikitpun sebelumnya. Kemungkinan besar menurut saya adalah kampasnya habis meskipun tetap saya menganggapnya aneh.

Saya pun sempat kebingungan dengan situasi ini. Saya masih setengah perjalanan, tapi salah satu senjata saya tidak optimal. Otomatis ini membuat saya tidak bisa memacu kendaraan saya dengan kecepatan tinggi lagi karena resikonya akan sangat besar. Apakah saya dapat tiba di lokasi tepat waktu? Saya simpan itu dalam harapan saya. Saya pun kemudian kembali melaju dengan kecepatan sedang dan menjaga jarak dengan kendaraan di depan saya. Sambil berjalan saya terus mencoba-coba rem belakang saya. Pada jarak sekitar 2-3 kilometer dari tempat kejadian, saya merasakan bahwa rem belakang saya mulai berfungsi meskipun harus diinjak dengan sangat dalam. Untuk meyiasati situasi ini, kaki kanan saya sudah setengah menginjak rem agar jika tiba-tiba harus berhenti dapat berhenti dengan sigap. Saya pun mulai berani menambah laju kecepatan saya karena saya telah memastikan rem saya berfungsi meski harus menginjaknya dalam-dalam. 

Ketika perjalanan telah memasuki daerah Secang hingga Magelang, saya merasakan bahwa rem belakang saya mulai kembali mendekati normal. Tidak lagi dalam, sudah cukup pendek jarak injakannya dan cukup berfungsi dengan baik. Mengetahui kondisi yang sudah seperti normal dan stabil, saya pun kembali berusaha melaju cepat dengan tetap memperhatikan kondisi jalan yang semakin ramai karena masuk kota. Saya sempat berhenti sejenak untuk beli minum dan istirahat sekitar 5-10 menit sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Setelah melewati Magelang di mana jalan kembali sepi, saya pun menambah kecepatan motor saya hingga sampai tujuan.

Sampai di kantor menunjukkan pukul 10.07. cukup waktu untuki menghela nafas dan istirahat sejenak. Setelah masuk, saya ke kamar mandi dulu untuk membasuh keringat yang bercucuran dan rapi-rapi. Setelah itu, saya diminta mengisi formulir. Di sini, akhirnya saya bertemu dengan seorang kakak kelas saya yang juga akan mengikuti wawancara. Setelah mengobrol sambil mengisi formulir, kemudian saya dipanggil untuk wawancara.

Setelah selesai wawancara, motor saya, saya servis di bengkel kantor tersebut. Memang sudah waktunya nih motor perlu diservis dan ganti oli setelah hampir selama dua minggu keliling Jawa Tengah dan DIY. Sambil menunggu motor saya diservis, kemudian saya bersama kakak kelas saya melakukan sholat Jum’at dan makan siang. Setelah makan, kembali saya menengok motor saya. Saya tanyakan bagaimana motor saya? bagaimana remnya? Apa ada yang perlu diganti? Mereka menjawab bahwa motor saya sudah selesai dikerjakan dan remnya baik-baik saja tanpa perlu ada penggantian apapun. Sempat heran, kemudian saya coba remnya dan rasanya masih sama seperti belum diservis. Memang berfungsi sih, tapi entah mengapa kok kurang mantap. Apa memang sebenarnya tidak terjadi masalah apapun dengan rem belakang saya? Lalu mengapa tadi bisa blong? Belum sempat menemukan jawaban atas pertanyaan dalam benak saya, sudah saya bayar dulu jasa servisnya.

Keesokan harinya saya kembali ke Semarang dengan kecepatan normal sesuai versi saya. Penjelasannya untuk perjalanan ke luar kota berjalan pelan itu melelahkan, jadi berjalan cepat namun dengan kecepatan yang tidak sampai membuat kita tegang. Intinya berjalan cepat tapi tetap rileks. Sempat muncul kekhawatiran jika terjadi apa-apa, tapi kembali optimis. Toh dari bengkel juga bilang tidak ada masalah.

Karena sudah agak sore saya pulang, saya memutuskan tidak lewat jalan utama, melainkan lewat jalan alternatif. Entah lewat mana itu, pokoknya setelah pom bensin jambu saya belok ke kiri mengikuti travel yang ke Semarang. Saya tidak mau lewat jalan utama karena pasti akan banyak menemui truk pasir yang menjengkelkan. Saya sengaja mengikuti travel karena saya sendiri belum pernah lewat situ dan takut nyasar. Hingga akhinya travel berjalan pelan karena didepannya ada truk pasir, terpaksa saya pun mendahului keduanya. Saya kemudian melaju sendiri di tengah hutan dengan kecepatan sedang karena jalan licin sehabis hujan. Hanya mengandalkan sedikit perasaan dan sedikit logika untuk menentukan jalan yang tepat. Ditambah situasi saat itu sudah Maghrib sehingga langit pun berangsur gelap. Saya pun baca-baca surat pendek untuk menghibur diri. Sesekali ada motor melintas dari arah berlawanan. Hingga akhirnya saya kembali ke jalur utama sebelum pasar Ambarawa. Tepatnya di dekat warung-waung yang jual buah-buah. Setelah itu saya langsung melanjutkan perjalanan hingga ke rumah.

Sampai di rumah saya bercerita tentang keanehan rem saya yang sempat blong dan tiba-tiba bisa kembali normal lagi dengan sendirinya. Saya berkata bahwa saya sangat heran akan hal itu. Bapak saya kemudian mengatakan bahwa itu bisa terjadi karena lokasinya. Mungkin di situ daerah rawan yang banyak pengganggunya. Beliau kemudian menasehati supaya tidak berjalan dengan terlalu cepat dan membunyikan klakson di tikungan dan jembatan, serta tidak berangkat mepet.  Kali ini saya percaya. Bisa saja saya menjadi korban kemistisan dari tempat tersebut. Karena benar-benar tidak masuk akal, setelah menjauh darinya rem kembali normal dengan sendirinya. Sebuah skenario kecelakaan seperti sudah terpampang di depan saya. beruntung dan syukur Alhamdulillah saya bisa keluar dari skenario tersebut. Allah telah menyelamatkan saya dan mungkin juga mengingatkan saya dengan kejadian ini. Apapun itu jika belum takdir pasti takkan terjadi.

Namun dari sini saya mencoba memahami dan berpikir bahwa mungkin kecelakaan-kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini karena rem blong, bisa jadi mirip dengan yang saya alami. Rem yang tiba-tiba blong meskipun kondisi kendaraan sebelum berangkat pada kondisi yang baik. Mereka sebelum berangkat pasti juga mengecek kendaraannya. Kemistisan suatu lokasi yang berpenunggu yang mendukung terjadinya kecelakaan. Sama seperti motor saya, ketika masih berada di sekitar lokasi tersebut, rem tetap blong. Kalaupun nanti diinvestigasi jelas karena rem blong. Jadi jika ada bus atau truk yang mengalami mirip seperti saya, tentu setelah mereka menabrak kalau diinvestigasi penyebabnya adalah  rem yang blong. Untung yang saya bawa motor, kalaupun saya bawa mobil, bus, atau truk pasti juga bisa menabrak orang, motor, atau bus yang berhenti tersebut karena dengan kendaraan besar lebih sulit untuk menghindari objek lain. 

Dari dulu saya percaya bahwa ada mahluk lain atau mahluk gaib di lokasi-lokasi tertentu bahkan di rumah saya pun saya percaya ada. Yang penting kita hati-hati dan tidak berbuat yang aneh-aneh. Tetap berdoa kepada Allah memohon perlindungan dan keselamatan. Kejadian ini membuat saya lebih waspada di jalan dan lebih banyak berdoa kepada Allah. Tapi ini tidak membuat saya lantas memakai jimat atau sesaji yang mengarah ke syirik. Saya percaya jika belum takdirnya tidak akan terjadi apapun. Seperti dulu waktu kaki saya terinjak truk dan sekarang lolos dari skenario kecelakaan. Mau percaya atau tidak? This is Real! Mistic! Believe or Not?!


Selasa, 16 Oktober 2012

Jadi Limbad Sebelum Ujian




            Teman-teman kenal Limbad kan? Siapa sih yang hari gini nggak kenal sama Limbad? Terus apa hubungannya Limbad sama ujian? Emang Limbad masih sekolah? Iyaaa Kaleeee... Hehehe... Begini teman-teman yang sedang sekolah bukan Limbad, tapi saya dulu waktu kuliah. Terus maksudnya jadi Limbad apa dong? Jadi Jelek gitu? Oww tidak... Saya mah bersyukur aja sama yang dikasih Tuhan. Buat apa jadi jelek kalau udah dikasih ganteng? Hahaha....

            Selama ini Limbad kan dikenal sebagai pesulap yang selalu menampilkan atraksi ekstrim, menantang bahaya dalam setiap pertunjukannya. Dulu dia pernah beratraksi dengan dilindas alat yang buat mengaspal jalan (maaf nama alatnya lupa). Kurang lebih hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada diri saya, tentu bukan karena kesengajaan. Gilaaa apa? Udah tau bahaya diikutin. Hahaha...

            Langsung aja ke inti permasalahan. Waktu itu masih musim ujian. Kalau sekarang sih udah nggak musim, maklum udah cabut dari kampus. Nah waktu musim itu, sama seperti musim buah yang selalu ada keramaian. Keramaiannya apa hayo? Keramaian pinjem catatan dan fotokopi catatan.

            Ada satu mata kuliah yang catatannya banyak, masih ditambah fotokopi bacaan-bacaan wajib, dilengkapi pula dengan fotokopi makalah yang tak kalah banyaknya. Mata Kuliah apa itu?  Yuph, mata kuliahnya Pak Tri, tepatnya Politik Global.

            Singkat cerita, setelah muter-muter cari bahan dan fotokopi, akhirnya komplit juga bahannya. Tinggal dibaca aja satu-satu. Entah mengapa malam itu, hawanya malas buat belajar. Tapi kalau nggak belajar besok ujian mau diisi apa? Akhirnya, setelah saya sholat isya, sekitar jam 9 malam, bahan-bahan sudah saya persiapkan, tinggal eksekusi. Tiba-tiba HP saya berbunyi. Ternyata dari Budi, teman kampus saya. “An, kamu di rumah nggak?”, kata smsnya. “Iya, ada apa?”, jawabku. “Kamu bisa ke rumahnya Maretha sekarang nggak?”, balasnya. “Ada apa?”,  sahutku. “Pokoknya ke sini dulu aja?”, pintanya dengan agak ngotot. Aku pun sebenarnya heran ada apa tiba-tiba sms gitu. Padahal mau belajar juga. Ah masa bodoh, ke sana dulu aja. Ada apaan sih? Rumahnya juga dekat, paling sebentar.

            Setibanya di sana, saya disambut oleh tiga orang, yaitu Budi, Ali, dan tentunya Maretha sebagai tuan rumah. Ternyata di sana memang terjadi permasalahan. Ali dan Budi tidak bisa pulang karena motornya Ali nggak bisa nyala. Saya lupa apa penyebabnya. Yang jelas motif Budi mengundang saya sudah terkuak, yaitu mau pinjam kunci. Untungnya kunci-kunci tersebut ada dalam bagasi motor saya meskipun Budi nggak bilang.

            Kemudian kami pun mengerumuni motor Ali. Budi dan Ali mengotak-atik motor, saya memegangi lampu emergency, dan Maretha jadi pemandu sorak memberi dukungan. Setelah cukup waktu, akhirnya motor Ali dapat disiasati dan berhasil nyala. Kami kembali ke dalam rumah Maretha untuk cuci tangan dan ngobrol-ngobrol sebentar. Biasa membahas sedikit masalah ujian sebelum akhirnya saya, Ali, dan Budi memutuskan untuk beranjak pulang.

            Sampai rumah saya kaget, ternyata sudah jam 12 malam. Penyakit saya kambuh lagi, biasa penyakit malas belajar. Akhirnya saya keluar sebentar beli wedang jahe, biar badan hangat, mata kembali terang, dan semangat belajar. Setelah menghabiskan segelas wedang jahe saya berniat untuk rileks sebentar. Namun yang terjadi di luar dugaan, saya tertidur sampai pagi.

            Akhirnya setelah Subuh baru saya belajar. Dimulai dari baca catatan dan salah satu bacaan wajib. Sekitar jam 9 saya sudahi aktivitas belajar saya. Masih ada satu bacaan wajib dan makalah presentasi teman-teman yang belum saya baca. Namun saya memutuskan untuk segera berkemas. Jika ada waktu, nanti dibaca di kampus saja.

            Selesai berkemas pada jam setengah sepuluh, saya bergegas secepat mungkin ke kampus. Alokasi waktu perjalanan 20 menit untuk tiba di sana. Jadwal ujiannya sendiri jam sepuluh. Ya apes-apesnya sampai sana tepat waktulah. Maklum, jam segitu lagi macet-macetnya.

            Benar seperti yang saya perkirakan. Kemacetan panjang terjadi di Kalibanteng. Sejak jam setengah sembilan sampai Maghrib Kalibanteng selalu macet. Jalanan dipenuhi oleh truk-truk besar. Seperti pengendara motor pada umumnya, saya pun mencari celah diantara truk-truk tersebut untuk merangsek ke depan. Saya ingin segera belok ke jalan tikus di belakang agen bus Coyo agar terbebas dari kemacetan. Saya terus berusaha menyelinap diantara mobil, bus, dan truk hingga sampai di depan sela-sela antara truk kontainer dengan truk Pertamina. Agak ragu saya untuk menyelinap, karena jaraknya sempit. Pas banget untuk motor. Tapi karena sudah diburu waktu, akhirnya saya menyelinap diantaranya dan berhenti di samping kepala truk. Saya tidak bisa merangsek lebih depan lagi karena sudah tidak ada celah lagi di depan.

           Ketika kendaraan di depan saya mulai maju, saya pun segera berusaha memacu motor saya. Tapi saya merasakan kok ada yang aneh. Kaki kiri saya kok sulit diangkat. Saya pun kemudian menengok ke samping, melihat apa yang terjadi dengan kaki saya. Serta merta saya terbelalak dan teriak Waaaaaaaaaa...... Ternyata kaki saya tepat berada di bawah ban truk dan tertindih olehnya. Meskipun saya sudah berteriak sedemikian kencang dan histeris tidak ada tindakan yang dilakukan oleh sopir truk tersebut. Akhirnya saya buka helm saya dan menoleh ke belakang sembari tetap teriak. Bapak-bapak pengendara motor di belakang saya yang mengetahui kondisi saya langsung menggedor-gedor pintu truk. Barulah setelah itu truk itu mundur dan kaki saya dapat terangkat. Ada sekitar 2-3 menit kaki saya tertindih truk. Lucunya, saya baru merasa sakit setelah melihat kaki saya tertindih truk.

            Setelah kaki saya terbebas dari jepitan ban truk, hal pertama yang saya lakukan adalah memeriksa kaki. Saya pegang dan saya raba seluruh telapak kaki kiri saya. Alhamdulillah kaki saya masih utuh meskipun harus merasakan nyeri yang teramat sangat. Di situ saya benar-benar bersyukur bahwa kaki saya masih utuh. 

            Klakson kendaraan-kendaraan yang berbunyi berulang-ulang ketika saya berhenti memeriksa kaki saya sangatlah mengganggu, meskipun sebenarnya kendaraan saya sudah saya tepikan ke kanan jalan (sisi yang lebih dekat). Entah apa yang dibilang orang-orang pada waktu itu. Setelah memastikan kaki utuh, pikiran saya kembali ke ujian. Tidak ada waktu untuk menanggapi omongan orang, termasuk untuk marah-marah atau memaki sopir. Ini saya lakukan karena saya memiliki pengalaman pahit dalam mengurus ujian susulan, di mana sangat ribet dan harus disertai surat rawat inap. Memang sih sempat terlintas untuk langsung memeriksakan diri ke rumah sakit biar tahu kondisi kaki saya, tapi saya urungkan. Saya lebih mementingkan ikut ujian dulu. Nanti sehabis ujian saja baru periksa.

            Di perjalanan, saya mengendarai motor dengan satu tangan. Maklum, tangan kiri saya sesekali memegangi kaki saya.  Sementara pikiran saya juga tidak fokus ke jalan. Masih terbayang kejadian beberapa menit sebelumnya yang membuat pikiran saya menjadi kacau. Saya membayangkan andai saja kaki saya tidak bisa diangkat dan tubuh saya tertarik ke arah truk, entah apa yang terjadi pada diri saya. Saya benar-benar merasakan batas antara hidup dan mati saat itu begitu tipis. Alhamdulillah Allah telah menyelamatkan saya tanpa kekurangan suatu apapun sehingga saya pun masih memiliki kesempatan memperbaiki diri.

Entah jam berapa tiba di kampus. Yang jelas, kelas untuk ujian dengan parkiran terbilang jauh. Saya pun berusaha bergegas untuk segera sampai di kelas. Namun kondisi kaki yang nyeri membuat jalan saya pincang dan tidak bisa cepat. Meski demikian, saya tidak mau terlihat pincang. Saya tetap berusaha jalan tegap dan mengayuh kaki dengan cepat meski tetap tidak bisa secepat biasanya. 

            Ketika masuk kelas, saya ditanya oleh pengawas, “Kenapa baru datang?”. “Kecelakaan Pak”, jawab saya singkat. Saya pun segera mengambil soal dan lembar jawab yang ada di meja pengawas dan bergegas ke bangku saya. Di sini saya bersyukur lagi karena masih diperbolehkan mengikuti ujian. Padahal dalam aturan, paling lambat hanya 20 menit. Sementara saya merasa terlambat lebih dari setengah jam.

        Ketika melihat soal, saya kaget. Semua soal yang ditanyakan adalah materi-materi yang belum sempat saya pelajari. Tapi masa bodoh. Tidak ada waktu untung bengong atau berpikir lama. Saya sudah terlambat setengah jam. Sementara soalnya banyak. Terlalu banyak berpikir, ujian saya tidak selesai nanti. Akhirnya saya langsung mengerjakan soal-soal tersebut. Apa yang ada di pikiran saya langsung saya tulis. Entah itu benar, salah, atau benar-benar ngawur. Yang penting semua soal harus dikerjakan dan penuh. Akhirnya semua soal dapat diselesaikan tepat waktu.

            Selesai ujian, seperti biasa saya bersama serombongan teman-teman saya pergi ke kantin untuk mengisi perut. Saya pun berusaha berjalan biasa meski harus menahan nyeri yang tidak terkira.  Sesampainya di kantin, kami pun langsung memesan makanan. Sambil menunggu pesanan, kami saling becanda. Saya pun ikut menanggapi meski kurang antusias. Bagaimana mau antusias dengan kondisi seperti ini?!  

Saya saat itu memang menjadi lebih pendiam. Saya simpan energi saya untuk menahan rasa nyeri yang melanda. Daripada saya harus terus meringis dan merintih kesakitan, lebih baik diam kan?! Gelagat yang tidak biasa ini tercium oleh Guruh. Dia pun bertanya, “An kenapa megangin kaki mulu?”. Saya pun hanya menjawabnya singkat, “Habis terinjak truk”. Dia seolah tak percaya dan menanyaiku lebih detail dan saya pun hanya menjawab seadanya. Meskipun di situ ramai, namun hanya sedikit yang menanggapi perbincangan kami karena sebagian sudah sibuk dengan makanannya atau perbincangan lainnya.

            Seusai makan, seperti biasa kami pergi ke mushola. Habis sholat Dzuhur kami nongkrong di mushola. Hal seperti itu sudah biasa kami lakukan sejak awal kuliah. Maklum, cuaca siang hari di Semarang sangat panas sehingga kami malas untuk beranjak dari tempat kami. Kami pun kemudian ngobrol-ngobrol santai. Entah bagaimana mulanya, kisah mengenai kaki saya langsung mengemuka. Dari situ kemudian muncul beragam pertanyaan, komentar, dan tanggapan. Tapi ada satu komentar yang akan saya ingat seumur hidup, yaitu komentarnya Wiwid. “Lhah, truk kok dijegal?”, begitu komentarnya dengan santai dan tanpa dosa. Serta merta kami yang ada di situ tertawa terpingkal-pingkal, termasuk saya pun ikut tertawa.

Sejak saat itu saya mendapatkan trade mark “Jegal Truk”. Bahkan waktu kami KKL, Wiwid setiap melihat truk selalu mengulang-ulang komentarnya. Saya pun tersenyum geli, tapi juga senang. Bahkan saat teman saya Yuda yang berbadan besar kecelakaan dengan mobil hingga tangannya patah, Wiwid kembali mengeluarkan komentar yang menggelitik. “Aan aja yang badannya kecil terlindas truk nggak papa, kamu yang badannya besar tabrakan sama mobil tangannya patah.”, begitu komentarnya dengan santai. Saya yang geli mendengarnya pengen ketawa tapi nggak jadi untuk menghormati Yuda.

Kembali pada kisah di mushola. Setelah lelah tertawa dan becanda, akhirnya saya berpamitan dengan teman-teman saya untuk pulang memeriksakan kaki. Kurang lebih jam setengah tiga waktu itu. Sampai rumah saya masih bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Saya nggak ingin Ibu saya menjadi khawatir. Namun setelah Ayah saya pulang kerja, saya baru cerita. Akhirnya saya di bawa pijat ke sangkal putung di Boja. Bagaimana rasanya di pijat? Saya sudah meraung-raung seperti harimau. Tukang pijatnya bilang ini nggak papa. Saya cuma disuruh ngasih parem.

Rasa sakit ini baru benar-benar hilang setelah enam bulan. Sebelumnya memang untuk menapak bisa, tapi jika kaki dimiringkan akan terasa sakit. Begitu pula saat saya main basket dan terinjak seorang teman, rasa sakitnya kembali kambuh. Termasuk ketika saya naik gokard dan nyungsep di mana kaki kiri saya terjepit remnya, kembali saya harus merasakan sakit. Saya pijat ke sangkal putung dua kali. Pertama setelah kecelakaan, yang kedua beberapa minggu sesudahnya. Hingga saat ini saya belum pernah memeriksakan kai saya ke dokter. Suatu saat saya ingin periksa dan melihat hasil rontgennya. Secara kasat mata memang bentuk kaki kiri saya sudah beda, menjadi lebih landai. Ini saya bandingkan dengan kaki kanan saya.

Lalu bagaimana dengan ujiannya? Ternyata ketika pembagian KHS (Kartu Hasil Studi), mata kuliah Politik Global yang saya kerjakan pasca kecelakaan mendapatkan nilai A. Hebatnya lagi, itu nilai A satu-satunya dari mata kuliah yang diujikan. Mata kuliah lainnya, saya mendapatkan nilai B semua. Memang ada satu mata kuliah lagi yang mendapatkan nilai A, yaitu Metode Penelitian Kualitatif. Namun mata kuliah ini hanya mengumpulkan tugas tiap minggu. Ujiannya pun cuma mengumpulkan tugas. Saya bersyukur waktu itu. Yang penting tidak ada nilai C. Tapi untuk mata kuliah Politik Global, saya benar-benar surprise. Tidak belajar, datang terlambat, tidak bisa mengerjakan, serta harus menahan rasa sakit tapi mendapatkan nilai A. 

Melihat semua kenyataan ini, saya merasa ada kuasa Illahi yang ikut berperan. Pertama, saya merasa telah diselamatkan dari kecelakaan yang lebih parah. Andai saja truk itu terus berjalan maju pasti akan melindas kaki saya dan pasti kaki saya akan hancur atau bisa saja badan saya ikut terpental ke arah truk. Padahal truk itu punya kesempatan untuk maju karena kendaraan di depannya sudah maju. Jika itu terjadi, hancur sudah masa depan saya. Tapi yang terjadi truk itu tidak memaksa maju dan akhirnya mau mundur agar kaki saya bisa lepas dari tindihan ban truk. Kedua, hasil ujian saya yang mendapatkan nilai A. Dengan kondisi yang telah saya ceritakan di atas, di tambah dengan kenyataan bahwa mata kuliah ini sulit mendapatkan nilai bagus dan kebanyakan hanya mendapat nilai C, apa yang saya dapatkan sangatlah spesial.

Jelas pada peristiwa ini Allah telah menyelamatkan saya dari bencana yang lebih besar. Pasti itu. Namun apakah ini cuma-cuma karena takdir? Saya tidak bisa dan tidak berani menjawabnya. Yang jelas beberapa saat setelah itu, saya teringat dakwah dari Ustad Yusuf Mansyur mengenai keajaiban sedekah. Salah satunya dapat terhindar dari bencana yang lebih besar. Bukan bermaksud pamer atau bagaimana. Namun saya sempat berpikir, apa bantuan sederhana yang tak berarti dari saya kepada Ali dan Budi yang telah menyelamatkan saya dari kecelakaan yang lebih besar? Wallahu Alam.

Berikut beberapa dalil yang menyebutkan faedah sedekah dalam menghindarkan bencana:

§  Rasulullah saw bersabda, “Sedekah dapat mencegah 70 macam bencana, yang paling ringan adalah penyakit kusta dan supak” (HR. Thabrani).

§  Rasulullah saw bersabda, “Bersegeralah kalian untuk mengeluarkan sedekah, karena sungguh bencana tak dapat melewati sedekah” (HR. Thabrani).

§  Rasulullah saw bersabda, “Obatilah orang sakit diantara kalian dengan sedekah” (HR. Baihaqi).

§  Hadits qudsi, Allah berfirman, “Wahai Anak Adam, kosongkan gudangmu untuk memenuhi apa yang ada di sisi-Ku. Niscaya Engkau akan selamat dari kebakaran, kebanjiran, pencurian, dan kejahatan” (HR. Thabrani)

§  Rasulullah saw bersabda, “Sungguh sedekah dapat memadamkan panasnya kubur orang yang bersedekah dan sungguh orang mukmin akan bernaung pada hari kiamat dengan payungan sedekahnya” (HR. Thabrani)

Itulah tadi salah satu pengalaman getir ketika kuliah. Yang otomatis membuat perjalanan kuliah saya menjadi berwarna. Tidak selalu mulus tapi berhasil mengakhiri masa-masa sulit dengan senyum manis. Makanya kalau ada pekerjaan yang meminta menitipkan ijazah, saya berpikir seribu kali dulu. Bukan hanya soal lamanya waktu kuliah dan biaya, namun karena untuk mendapatkannya pun saya nyaris mengadu nyawa.

Mengenai faedah sedekah dapat menghindarkan bencana, saya percaya. Entah apa yang terjadi pada diri saya bisa menjadi buktinya atau tidak. Niat saya di sini hanya berbagi pengalaman. Tidak ada niatan untuk pamer. Namun tidak ada salahnya kita berpikir positif bahwa pertolongan kecil tadi yang memudahkan pertolongan dari Allah. Ketika saya mengatakan seperti ini, tidak lain hanya untuk memotivasi minimal diri saya sendiri, untuk ringan tangan membantu orang dan tidak berat untuk mengeluarkan sedekah.

Yang jelas Allah adalah Hakim yang paling adil. Dia pasti akan memberikan imbalan yang setimpal atau bahkan lebih besar kepada hambanya yang berbuat kebaikan. So, kalau ada kesempatan berbuat baik, maka lakukanlah dan tak perlu berpikir yang macam-macam. Semoga ada yang bisa dipetik dari berbagi pengalaman ini. 


Pilih matang dimanaaaaaa???



“Jika kamu tidak mendapatkan buah yang matang di pohon, maka ambillah buah yang mentah lalu karbitlah. Agar kamu tetap bisa merasakan manisnya buah yang kamu inginkan.”

Apa maksud dua kalimat di atas? Yach, itu hanyalah perumpamaan. Semoga saja sesuai dan mengena.

Secara sederhana, jika kedua kalimat di atas diganti dalam bahasa yang denotatif akan menjadi, “Jika kamu tidak mendapatkan wanita yang sholehah, maka ambillah wanita biasa lalu bimbinglah ia menjadi sholehah. Agar kamu tetap bisa merakan manisnya istri sholehah.”

Siapapun rasanya pasti akan senang dan tidak menolak jika mendapatkan istri yang sholehah. Namun permasalahannya, wanita seperti itu saat ini sulit ditemukan. Globalisasi atau lebih tepatnya westernisasi telah meracuni pemikiran, cara berpakaian, serta cara bertingakah laku kebanyakan wanita sekarang. Mereka mendefinisikan cantik dan menarik adalah dengan mengeksplore keindahan tubuh yang mereka miliki. Kebebasan menjadi dalil mereka untuk melakukan apa saja dan dengan siapa saja. Fashion dan musik adalah roh mereka. Tiada hari tanpa musik. Satu-satunya ketakutan mereka ketika keluar rumah ialah terlihat jelek.

Fenomena ini memang mengenaskan. Musik lebih sering didengar daripada ayat-ayat Al-Qur’an. Perhiasan yang seharusnya dijaga kini diobral. Setiap orang diperbolehkan melihatnya. Mereka juga nampak lebih lama melakukan persiapan berpergian daripada ketika sholat.

Namun kita tidak boleh berkecil hati. Wanita sholehah sebenarnya masih ada. Hanya saja mereka tidak eksis atau tidak mau eksis. Satu-satunya media eksis mereka adalah lewat dakwah. Jadi, jangan harap bisa menemukan mereka jika hanya main ke mall saja. Yang lebih penting adalah menguasai ilmu-ilmu agama terlebih dahulu dan jangan terbawa nafsu untuk mendekati mereka. Kelolalah dirimu dulu dengan benar sesuai aturan agama barulah berikhtiar dengan cara yang benar.

Namun apabila kita tidak berhasil mendapatkannya, kita juga tidak perlu bersedih. Semua itu sudah diatur Allah. Mungkin memang bukan jodoh. Tapi bagaimana jika kita masih punya keinginan istri yang sholehah? Yach, dengan siapapun pasangan kita nantinya, kita tetap bisa merasakan istri sholehah, termasuk jika istri kita adalah wanita biasa seperti kebanyakan wanita lainnya. Caranya, kita bimbing dia pelan-pelan menjadi wanita sholehah seperti wanita yang Islam inginkan. Bukankah memang sudah menjadi kewajiban seorang suami untuk membimbing istrinya? Di sisi lain kita juga harus belajar menjadi suami yang sholeh. Tanpa teladan kita, mengubah seseorang akan menjadi sangat sulit. Maka dari itu, mendalami ilmu-ilmu agama sangatlah penting. Jika ilmu kita masih kurang, maka kita harus belajar lagi.

So, sekarang kita pilih buah yang matang di mana? Mau yang matang di pohon? Atau yang kita karbit sendiri? Hmmm... rasanya nggak penting sekarang proses matangnya gimana. Yang penting adalah kita bisa merasakan manisnya buah yang kita inginkan. Yang lebih penting, buah itu memang punya kita. Jangan makan buah orang lain yaaa. Hahahahahaha......


Senin, 15 Oktober 2012

Cewek Cantik Jatuh Depan Gue, Hampir Aja...


Jalan Veteran Semarang, 1 September 2012 +/- Pukul 22.00 WIB.


            Semalam, setelah lelah dengan rutinitas yang menjemukan, aku  memutuskan untuk membawa motorku berselancar ke pusat kota. Rencana awal, aku pengen cari buku untuk bacaan daripada bosen kalau pekerjaan udah selesai. Sebiji novel Islami akhirnya aku dapatkan. Aku sendiri nggak tau kenapa akhir-akhir ini pengen baca novel padahal sebelumnya males banget. Mungkin karena aku sekarang pengen belajar nulis yang bagus dan menghasilkan kalee yaa...

            Waktu mau pulang, aku iseng pengen memantau situasi Simpang Lima sama Jalan Pahlawan. Melihat kembali lokasi yang jadi tempat tongkrongan waktu SMA. Keadaan sekarang dan dulu memang berubah. Penataan Simpang Lima dan Pahlawan membuat semakin banyak orang / komunitas mengunjungi tempat tersebut pada malam hari, terutama pada malam minggu. Jalanan memang macet sih, tapi aku nikmatin aja. Aku pengen lihat komunitas-komunitas apa aja yang sedang beraksi di situ. Setelah berjalan merayap, akhirnya motorku dapat berjalan leluasa sejak mendekati Polda. Aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah melewati Jalan Veteran yang sebelumnya merupakan rute untuk berangkat dan pulang kuliahku.

            Sampai Jalan Veteran arus lalu lintas masih padat tetapi kendaraan masih bisa jalan dengan kecepatan rendah. Lagi asyik-asyiknya menikmati udara dan suasana malam, aku dikejutkan dengan kejadian yang ada di depan mataku. Kraaak, dua buah motor bersenggolan dan jatuh dengan kompak. Aku yang persis ada di belakangnya pun kaget. Klakson aku bunyikan dengan panjang sambil mengarahkan motorku ke pinggir jalan menghindari motor dan korban yang tergeletak di tengah jalan. Tidak jelas sebelumnya bagaimana prosesnya terjadi. Seingatku di depanku dalam satu jalur dilalui tiga motor. Motor yang berada di tengah ingin mendahului motor yang ada di kiri yang beberapa meter di depan motor yang di tengah. Waktu mau mendahului, dia justru menyenggol motor yang ada di sisi kanan yang telah beberapa meter di depannya. Kedua motor dan empat orang yang menungganginya jatuh, sementara helm salah satu korban yang berwarna pink dengan motif bunga-bunga terpental dan menggelinding beberapa centimeter di depan motorku waktu aku menepi.

            Setelah menepikan motor, pandanganku kembali ke tengah jalan. Dua orang lelaki yang terlibat dalam kecelakaan telah bangun dan menggiring motornya ke tepi. Sementara seorang cewek yang juga menjadi korban telah berdiri. Lalu nampak seorang pria datang untuk membangunkan motor cewek tadi dan membawanya ke pinggir jalan. Setelah motor  disingkirkan, nampak masih ada seorang cewek yang tergeletak terlentang tidak bergerak di tengah jalan. Aku langsung saja menghampirinya. Mata cewek itu telah terpejam meskipun tidak terlihat ada luka ditubuhnya. Namun ketiadaan respon darinya membuat situasi menjadi sangat mengkhawatirkan. Bersama dua pria lainya, aku membopong tubuh cewek itu ke pinggir jalan.

            Kami kemudian membaringkan tubuhnya di tempat yang agak luas dan terang. Teman-teman cewek itu langsung mendekat. Mereka menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil menyebut-nyebut namanya. Nampak mereka sangat khawatir, bahkan dari suaranya sudah terdengar tersedu-sedu, tapi sayang tidak ada respon sedikitpun dari cewek tadi. Aku yang melihatnya juga ikut khawatir. Sementara di sekeliling kami, kerumunan orang sudah semakin banyak. Seperti biasa, mendadak ada yang ingin jadi wartawan, ada yang ingin jadi juru bicara, dan ada yang cuma ingin menonton live show.

            Kembali ke korban, meski terus ditepuk-tepuk pipinya dan digoyang-goyangkan badannya, dia tetap belum sadar. Seorang temannya yang semakin khawatir terus berucap, “Mii... Bangun Mii... Bangun Mii...”. Sementara seorang lainnya sibuk dengan HP-nya. Entah sms atau telepon siapa dia, mungkin keluarga atau kerabatnya. Aku dan bapak-bapak di sebelahku menyarankan agar segera dibawa dan diperiksa ke rumah sakit, tapi teman-temannya hanya beraktivitas seperti tadi. 

Aku yang terus mengamati dari tadi juga semakin khawatir dengan kondisinya. Di luar kekhawatiranku, ternyata cewek tadi memang cantik dan ok banget. Tapi dalam sekejap pikiranku yang nyleneh menghilang berganti kekhawatiran kembali. Kekhawatiran membawa aku menerka-nerka apa yang terjadi padanya. Apakah dia sudah meninggal? Kalau meninggal, ini pertama kali aku nonton proses orang meninggal dong. Meski begitu, aku tak berharap apa yang aku pikirkan terjadi. Terus melihatnya membuat aku semakin kasihan. Mana teman-temannya cuma menggoyang-goyangkan tubuhnya aja. Pengen periksa detak jantungnya, tapi kok gimanaaa...

            Setelah 15-20 menitan pasca evakuasi, akhirnya mulai muncul tanda-tanda kalau dia akan sadar. Dimulai dari mulutnya yang membuka, mungkin untuk mengambil nafas lebih banyak kali yaa. Kemudian diikuti perlahan-lahan membuka matanya. Akhirnya dia benar-benar sadar. Begitu sadar ia langsung menangis dan merintih kesakitan, “Kak sakit Kak... Sakit Kak...”, sambil tangannya memegang tengkuknya. Kemudian seorang temannya atau mungkin kakaknya (karena dia tadi memanggil kak) meletakkan tas di bawah kepalanya untuk bantal.

Korban terus saja merintih dan menangis kesakitan. Kemudian datang pria yang tadi ikut membopong memberikan segelas air putih. Lagi, aku bersama bapak-bapak di sebelahku meminta agar segera dibawa ke rumah sakit agar bisa diperiksa lebih lanjut mengingat si korban terus merintih kesakitan, pasti itu ada luka dalam atau bahkan gegar otak karena posisinya di tengkuk kepala. Namun masih belum terlihat respon dari teman-temannya untuk segera membawa ke rumah sakit. 

            Beberapa menit kemudian terlihat mobil patroli polisi melintas. Seketika juga kerumunan pada menghilang. Biasa ABG-ABG yang ketakutan kalau-kalau dianggap terlibat mulai melarikan diri. Nggak tau deh ABG-ABG sekarang kok sering takut sama polisi, lagi tongkrongan di pinggir jalan ada polisi lewat juga langsung kabur, takut dikira ikut trek-tekan. Padahal untuk kasus kecelakaan ini, kalau emang nggak terlibat ngapain mesti takut terus kabur terbirit-birit. Aku aja yang KTP sama SIM-ku baru hilang bersikap tenang, meski ada sedikit kekhawatiran ntar kalau ikut dimintai keterangan sama identitas. Tapi demi kemanusiaan, aku tetap bertahan di situ.

            Satu polisi kemudian turun. Sementara yang lain mencari tempat parkir untuk mobil patrolinya. Melihat ada mobil polisi, teman-teman korban berusaha membangunkan badan korban hingga korban pun bisa duduk. Polisi itu kemudian mendekati korban dan bertanya, “Bisa berdiri nggak?”, dengan nada yang sedikit keras. Alih-alih memberikan jawaban. Blek. Korban langsung kembali pingsan di bahu temannya seketika setelah mendengar pertanyaan polisi tadi. Kali ini aku geli dan pengen ketawa melihat hal itu tapi juga jengkel dan ingin maki tu polisi. Ngajak ngobrol orang sekarat kok nadanya membentak kayak bicara sama orang yang melanggar lalu lintas atau maling aja. Harusnya dia juga nggak perlu nanya, tapi langsung membopong / memapah korban ke dalam mobil. Bapak di sebelahku melihat hal itu kembali berkomentar, “Jangan dibentak Pak!”. Karena sudah diwakilkan oleh beliau, maka aku tidak jadi memaki tu polisi. Polisi itu pun tidak ada ekspresinya setelah itu. Dia kemudian meminta agar mobil patrolinya mundur kembali ke tempat korban.

            Setelah mobil patroli mendekat, teman-teman korban langsung membopongnya ke dalam mobil patroli dibantu polisi dan bapak tadi. Begitu korban sudah masuk, polisi menanyakan perihal kecelakaan tadi kepada temen korban. Akhirnya diketahui bahwa korban dan teman / kakaknya yang mengenderai revo diserempet oleh 2 orang yang berboncengan mengenderai vixion. Meski tadi aku di belakang mereka, aku memang tidak sempat memperhatikan kendaraan mereka. Fokusku cuma bagaimana agar tidak menabrak korban yang telah jatuh di jalan.

Si pengendara vixion entah ke mana, yang tersisa hanya yang membonceng. Itupun dia beradu mulut dengan polisi. Akhirnya vixionnya dibawa polisi sementara revonya sebenarnya hendak dibawa juga, tapi karena kondisinya yang tidak bisa jalan (kayaknya persnelingnya jepit mesin) jadi ditinggal dan dijaga polisi. Setelah sempat debat dengan pembonceng sial, akhirnya temen-temen korban ikut masuk ke mobil patroli dan membawa korban ke RSUP dr Kariadi Semarang. Aku yang melihat korban sudah dievakuasi dengan benar dan keberadaanku juga tidak dibutuhkan lagi, maka aku melanjutkan perjalanan pulang.

            Aku sih berharap korban segera mendapatkan penanganan yang tepat, dapat diselamatkan, dan kembali pulih. Ini pertama kalinya aku naek motor persis di belakang kecelakaan, untung banget bisa menghindari koban. Kalau nggak bisa berabe ntar. Ini juga pertama kali nolongin orang kecelakaan. Biasanya kalau ada kecelakaan, korbannya udah ditolongin dan dikerumunin orang. Agak ngeri juga waktu mau nolong, maklum aku phobia sama darah. Tapi untungnya dia nggak ada luka luar / darah yang mengalir, jadi bisa ikut mengevakuasi. Berhati-hatilah mengendarai kendaraan di jalan raya. Berkendaralah secara wajar. Hargai kenyamanan orang lain yang berkendara. Jalan raya bukan lintasan balap. Kalau mau membalap pakai lintasan tamiya aja, hehehe...