Senin, 08 Februari 2016

Karena Mereka Begitu Indah



Samudera cinta…

Dari palung hati…

Tak terukur dalamnya hingga saat…

Perpisahan tiba…                               (Lagu Cinta, Dewa 19)


            Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Sebuah hal yang lumrah dalam cerita hidup anak manusia. Diantara keduanya pasti telah terangkum banyak peristiwa. Peristiwa-peristiwa itulah yang akhirnya aku tuliskan dalam cerita ini agar tidak kabur tersapu oleh waktu.

            Awal aku di tv one, aku bertemu dengan seorang gadis yang sedang duduk di lobi. Gadis manis, tinggi, kurus, dan berjilbab. Ternyata dia juga karyawan baru dan hari itu adalah hari pertamanya bekerja. Sementara aku, hari itu hendak tanda tangan kontrak. Kami berkenalan, ternyata namanya Dian. Dua suku terakhir dari namaku. Hahaha…

            Sehari berselang, aku resmi mengenakan seragam tv one. Aku pun kembali bertemu dengan Dian. Dia telah duduk manis, rapi, dan tentu telah berseragam di ruangan finance tv one. Saat itu aku sedang diperkenalkan ke rekan-rekan finance satu per satu. Ternyata aku dan dian sedivisi, bahkan satu ruangan. Waktu terus berjalan mengikuti alur yang ditetapkan Sang Pencipta. Kami pun diangkat sebagai karyawan tetap dalam waktu yang bersamaan.

            Meski seruangan, pekerjaan kami berbeda. Aku di lapangan dan dia mengurus pengajuan budget di kantor. Namun tak berarti kerja kami tak bersinggungan. Dian sering aku repotkan untuk membantu mengurus budget, khususnya budget luar kota, apalagi jika budgetnya kurang dan waktunya mepet. Dari sharing budget akhirnya sampai sharing ke hal-hal yang lain.



           Dian merupakan pendengar yang baik. Dia memberi masukan tanpa menghakimi. Satu hal yang bakal membuat aku kangen adalah gaya ketawanya yang khas. Dian punya gaya ketawa yang panjang lebar bin kenceng banget. Kalau diingingatkan tangannya langsung menutup mulutnya. Terus bilang, “Aan kok gitu sih?!”. Jaga terus tawamu itu Di! Jangan sampai sedih dan galau merenggutnya. Nanti kalau ketemu, aku tagih. Hahaha…


            Oya, satu lagi yang bikin aku bangga sama Dian. Sekarang dia sudah mulai istiqomah mengenakan rok panjang. Mulai terbuka semangat di hatinya untuk belajar agama lebih dalam. Terus seperti itu ya Dian…!

            Perjalanan waktu juga membuatku menemukan sosok yang selalu ada dan ringan membantu. Awal bertemu sih, aku agak rikuh karena orangnya nampak pendiam. Tapi aku tahu, dia orang Jawa. Tidak ada alasan buatku untuk tidak bisa akrab dengannya.

            Sampai di suatu libur, tepatnya hari senin ketika itu, aku diajak dia main ke Ancol bersama dengan Gesta dan Adit. Mulai dari situlah awal keseruan tercetus. Sejak itu, entah bertiga atau berempat, kita sering untuk sekedar jalan atau nongkrong. Hingga saat-saat terberat ketika aku atau keluargaku tertimpa musibah, dia tetap ada. Memberi bantuan yang dia bisa berikan. Teman tukeran jadwal agar aku bisa pulang kampung lama. Teman yang mengisi penilaianku saat aku masih di kampung. Termasuk teman yang membantuku di saat terakhir di tv one.

            Satu hal yang aku petik pelajaran darinya adalah aku akan belajar menolong siapun yang membutuhkan. Berusaha untuk tidak pernah menolak orang yang minta tolong. Sebab seperti itulah caranya bersikap kepadaku. Oh ya, sampai lupa sebut nama orang ganteng yang baik hati ini karena keasyikan bercerita. Dia adalah Edi Supheno. Edi Suryono sih nama aslinya, tapi dia lebih populer dengan nama panggung Supheno Mbalelo.



            Banyak hal yang pasti bikin kangen dengan sosok manusia satu ini. Mulai dari Via Vallen, Dian Marshanda, Rena KDI, Reza Lawangsewu, Selimut Tetangga, Wedi Karo Bojomu, Keloas, dan Perawan Kalimantan. Banyak kan?! Sebenarnya nggak juga sih. Itu bisa diringkas jadi satu hal, yaitu penyanyi dangdut Panturaan beserta lagu-lagunya. Hahaha…

            Satu pesanku untuk Mas Pheno, kalau karaokean bawa motor sendiri mas. Masak iya, udah bayarin karokean, malah ditinggalin sendiri. Teman-temanmu pada jahat mas. Oya, salam buat Vio. Hahaha. Nanti, kalau ketemu lagi, pokoknya ndangdutan lagi yach?! Ok?!

            Di luar Mas Pheno, ada lagi seorang adik yang gemesin dan baik meski sering usil. Pertama aku masuk ruang finance, dia sudah ada di dalam. Mengenakan kaos ungu sembari duduk sendirian di pojokan. Dulu rambutnya panjang berombak dengan menyisakan sedikit poni untuk menutupi dahinya. Alhamdulillah, sekarang dia sudah berubah drastis. Sudah berhijab dan mulai mengenakan rok panjang pula. Subhanallah pokoknya dah.

            Dia merupakan partner ndangdutan Mas Pheno. Semua lagu dangdut hafal, terutam lagu-lagu dangdut baru yang alay-alay. Siapakah dia? Yuph, dia adalah Indah Dewi Pertiwi. Eh salah, Indah Sukma Dewi maksudnya. Seorang admin yang paling sering aku repotkan dalam beberapa bulan terakhir. Makasih banyak ya Indah.

            Ada satu hal yang mengharukan dari Indah. Yaph, dia sekarang mulai sering mengulang kata-kataku, “Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi lima menit kemudian”. Dulu kata-kata itu aku gunakan untuk mengajak sholat teman-temanku, tapi mereka masih sibuk dengan aktivitasnya. Karena sebal, aku pun berkata demikian. Masak iya panggilan Tuhan kita kesampingkan. Hahaha…

            Waktu pun akhirnya membawa aku menjadi karyawan senior. Maksudnya, ada lagi karyawan-karyawan baru yang masuk dan lebih fresh. Salah satunya adalah anak gaul selatan yang benama Nendar. Dia ini satu-satunya anak baru yang aku tandemin waktu pertama bertugas.  Anaknya asyik dan seru. Sehabis sama-sama tugas arus mudik, aku sering diajakin nongkrong ke tempat tongkrongannya yang ngehits abis.

            Pernah aku dan nendar terjebak dalam situasi di antara hidup dan mati di tengah laut. Saat itu kami sedang snorkeling. Aku yang tidak bisa renang memberanikan diri karena yakin aman setelah mengenakan pelampung. Setelah cukup lama bermain-main di air, kami pun hendak kembali ke perahu. Di saat itu kaki Nendar tiba-tiba kram dan dia lalu bergelayut di lenganku. Aku meski tak bisa berenang, memamapahnya sembari menyibak-nyibak air agar lekas sampai perahu. Namun apa daya, perahu tak kunjung mendekat, justru semakin menjauh. Akhirnya kami ditolong Mas Arya sama Pak Uli saat itu.


            Peringatan buat kamu Ndar, kalau kaki kram di tengah laut jangan minta tolong sama teman yang nggak bisa renang yach! Tapi ini sekaligus menjadi hal yang unik karena aku yang tak bisa berenang membantu nendar yang sebenarnya bisa berenang. Kalau mau belajar teamwork, ya seperti ini. Berusaha membantu meski tidak tahu berhasil apa tidak. Membuang ego masing-masing. Awalnya di perahu kita berapa orang, ketika sampai darat jumlahnya pun harus sama. Jangan sampai ketika ada yang sakit justru ditinggal dan dibiarkan di lautan. Sok bijak dulu aku. Hahaha…

            Waktu terus membawaku untuk merasakan tugas yang belum pernah aku rasakan. Akhirnya aku merasakan tugas arus mudik selama 20 hari penuh. Meski sebelumnya pun pernah merasakan, meski cuma tiga hari. 

            Apa sih yang sebenarnya dikhawatirkan dalam arus mudik? Kekhawatirannya cuma satu, yaitu meninggalkan orang-orang terdekat dalam waktu yang lama. Namun semua itu sudah terbiasa buatku yang anak rantau. Toh, dua lebaran sebelumnya juga tidak berkumpul dengan keluarga.

            Justru melalui arus mudik ini aku menjadi semakin dekat dengan teman-teman di lapangan yang selama ini hanya sebatas kenal saja. Saat itu aku berpikir mereka inilah keluargaku. Jika terjadi sesuatu denganku, merekalah yang pertama menolongku. Bukan temanku di Jakarta atau keluargaku di Semarang.

Aku benar-benar menyatu dengan mereka. Menikmati kebersamaan dengan mereka. Aku melupakan Jakarta beserta segala pernak-perniknya. Aku pun melupakan Semarang dan mengurung kerinduan tentangnya.

            Banyak cerita di arus mudik. Dari HP-ku yang hilang dihari pertama yang lantas disindir Azis dengan beli perleng sejuta. Dompet dan jam tangan yang nyaris hilang sampai Antoni begitu khawatir sama aku. Sabun Bath Thub yang sering diambil sama cowok yang ingin putih. Horornya lampu mati di Hotel Dian. Perjalanan mencari sate kambing di Brebes. Mengejar kereta demi telur asin. Barista sirup Mantan. Serta banyak hal lainnya yang rasa-rasanya cocok untuk jadi judul FTV. Hahaha...

Tapi yang paling berkesan adalah video musikal ini. Video tepat di saat yang tepat. Di saat kami baru saja lepas dari orang terdekat dan terjerat dalam kerinduan yang dalam dengan mereka. Di saat lelah telah menggurita akibat tuntutan live seharian. Upaya yang kami ciptakan untuk menghibur diri kami sendiri sembari menunggu untuk live berikutnya.


 
            Kembali tentang momen di video ini. Aku jadi lebih mengenal mereka. Antoni yang ngeselin tapi perhatian, Christie yang kalem tapi menggoda, Sintya yang bawel tapi kreatif, dan Azis yang cerewet tapi baik. Yang pasti momen video ini bisa terselenggara berkat kehebatan Pak Azis menata audio OBVAN sebagai sarana karaoke.

            Sempat dulu ingin mengirim video ini ke seseorang, tapi urung aku lakukan. Lagu Begitu Indah rasanya kurang cocok diberikan kepada orang yang dalam waktu sekejap mudah melupakan. Hiks.. Baper dikit. Tahu siapa yang begitu indah? Yaph, merekalah yang saat itu ada di dekatku. Banyak tingkah mereka yang membuat aku tertawa. Banyak cara mereka yang membuat aku terhibur dan dihargai.

            Satu lagi yang membuat aku terharu. Di penghujung arus mudik aku sakit hingga melewatkan makan malam terakhir bersama mereka. Tahu apa yang mereka lakukan? Saat aku mulai bisa bangun dan keluar kamar, mereka mengantarkanku mencari makanan. Joni, Bowo, dan Bengbeng. Mereka tidak makan, hanya menemani aku makan saja. Meskipun aku bilang aku yang bayar, tetap mereka tidak mau makan. So sweet banget deh mereka! Hahaha…

            Semua cerita tentang mereka, tentang teman-temanku semua, akan selalu begitu indah untuk diceritakan berulang kali. Sama seperti aku tak pernah bosan playback video di atas.


Terang saja aku merindunya…

Terang saja aku mendambanya…

Karena dia… karena dia..

Begitu Indah…                                    (Begitu Indah, Padi)


            Sukses buat kalian semua. Terima kasih atas semuanya dan mohon maaf atas kesalahanku. Semoga kelak ada kesempatan buat kita seru-seruan lagi. Hahaha…
           

Minggu, 24 Januari 2016

Analogi Sekitar, Belajar dari Sebuah Jam


Hidup ini seperti film. Ada cerita dalam setiap masa. Kadang di suatu titik waktu, sengaja atau tidak, kita melakukan preview atas peristiwa di masa lalu.

Segala macam rasa, mulai dari senang, sedih, tawa, marah, kecewa, ragu, dan cemas tak ubahnya merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu dalam pelangi. Mereka berselfie bersama dan nampak indah di langit. Warna-warna yang sebenarnya hanyalah uraian dari satu warna, yakni putih. Sama halnya dengan segala rasa yang kita alami. Semuanya mengkerucut pada satu hal, yakni hidup.

Jika kita bisa memaknai setiap peristiwa yang terjadi, tentu kita tak perlu gelisah. Senang sedih dalam hidup seperti halnya nada rendah dan tinggi yang terharmonisasi dalam sebuah lagu. Akan sangat membosankan pastinya jika sebuah lagu hanya terdiri dari satu nada saja. Bersyukurlah dengan apapun yang terjadi pada diri kita karena itu merupakan penggalan nada yang membuat hidup kita kelak terdengar indah.

Apa yang telah kita lalui tak jauh beda dengan buku ulangan harian saat SD. Ada nilai-nilai dengan beragam angka. Ada lembaran dengan banyak coretan merah dan ada lembaran yang tanpa coretan. Kita hanya bisa memandanginya sekarang tanpa bisa mengubahnya.

Sementara hidup hari ini adalah lembaran kosong yang akan kita tentukan goresan seperti apa untuk mengisinya. Esok masih gelap karena kita tak pernah tahu apa esok kita masih terjaga? Namun merangkai mimpi atau menyiapkan sesuatu untuk hari esok sangatlah dianjurkan.

Ada satu titik di mana kita terpaksa berhenti melihat ke belakang. Tertegun dan mungkin diikuti dengan kesedihan serta penyesalan. Tidak salah, tapi coba lihat ke titik yang lain di mana kita pernah bangga dengan diri kita dan apa yang kita lakukan. Ya, alangkah baiknya jika kita bersedih, kita lihat jam dinding yang ada di rumah kita. Lihat berapa banyak waktu yang kita habiskan hanya untuk bersedih?

Waktu kita, hidup kita, terlalu berharga untuk dihabiskan hanya untuk bersedih. Ingatlah bahwa kita pernah berbuat sesuatu yang luar biasa dan pastikan bahwa kita masih bisa melakukan itu sekarang. Melakukan hal positif untuk hidup kita dan untuk orang banyak.

Tirulah jarum jam. Dia akan terus berputar maju meski melewati angka yang sama. Dia tidak berhenti kecuali baterainya habis. Artinya apa? Kita tak akan pernah bisa menghapus kenangan tapi kita bisa beranjak dari kenangan.

Diri kita bukanlah komputer yang bisa kita hapus chache-nya. Kita juga tak mungkin merestart diri kita layaknya bermain game saat kita sudah mau mati.

Kita adalah mahluk yang bisa berpikir dan bisa merasa. Kita tidak dikendalikan program layaknya komputer. Kitalah yang harus bisa mengendalikannya. Mengendalikan keadaan yang kita jumpai. Mengendalikan keadaan di sekitar kita.

Jangan pernah merasa minder. Setiap kita punya kualitas. Kualitas seperti apa? Hanya diri kita sendiri yang tahu. Bergeraklah seperti jarum jam. Jangan terlalu lama berhenti sehingga waktu meninggalkanmu.

Mungkin kita pernah terluka parah. Cerita hidup bahkan tega membanting kita berulang kali. Membawa kita dalam situasi terjepit. Tapi percayalah kawan, itu bukan akhir. Kita hanya perlu lebih meyakinkan diri kita. Kita ini mampu. Kita ini sangat kreatif. Ya, seperti cerita di Dragon Ball di mana setelah terluka parah dan terdesak justru bisa menjadi Super Saiya yang kuat. Kita pun harus demikian. Mengalahkan rasa takut yang ditimbulkan lingkungan kita ataupun diri kita sendiri. Lalu meraih apa yang kita inginkan.

Optimislah kawan. Allah telah menggaransi bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan lewat surat Al-Insyirah ayat 6. Cayo!

***

Tulisan ini tak akan pernah ada tanpa inspirasi dari cerita-cerita sahabat-sahabat baikku, baik ketika kuliah maupun bekerja di Jakarta. Namanya kali ini tidak saya cantumkan agar tidak mengundang polemik. Hehehe. Tulisan yang seharusnya juga memotivasi penulisnya. Tapi....???

Menjalani tidak semudah menulis. Wkakakaka...


Senin, 07 Desember 2015

Pilihan


Seperti menanam padi di gurun
Atau menumbuhkan kaktus di gunung


Seperti memelihara lele di akuarium
Atau mencemburkan mas koki ke tambak


Seperti memakai jaket di pantai
Atau mengenakan bikini di gunung


Hidup itu tersedia aneka pilihan
Pilihan tepat membuat tumbuh cepat
Pilihan pas membuatnya nampak pantas


Tapi tak ada yang bisa menyalahkan
Kalau lele tetap bisa hidup di akuarium


Seperti pria tak mampu menolak
Jika seorang wanita berbikini di gunung


Meski pasti banyak yang menyalahkan
Kalau mas koki hanya bertahan beberapa jam


Karena hidup selalu tentang pilihan
Memilih dan dipilih
Atau tidak dipilih


Dan pilihan itu tak datang sendiri
Ia mengangkut persepsi sebagai aditifnya

Malam dan Hujan



Malam itu meneduhkan
Hujan itu  menyejukkan


Malam itu menyandarkan letih
Hujan mengajarkan sabar


Waktu malam, kita menanam mimpi
Waktu hujan, kita merenungi arti


Kalau sekarang gelap
Itu tak akan lama
Karena pagi menjanjikan mentari


Kalau sekarang dingin
Itu sekedar menyadarkanmu
Agar kau tak menyiakan mentari

Rabu, 18 November 2015

Memaknai Istilah Senggol Bacok


Semarang adalah salah satu kota yang miskin konflik. Apa penyebabnya? Budaya Jawa yang kuat melekat dan membentuk karakter penduduknya. Budaya Jawa seperti ramah, sopan, dan menjunjung tata krama menjadi pondasinya. Ditambah budaya “ewuh pekewuh” sebagai bagian dari pengendalian diri orang Jawa. Hingga sangat kecil niat untuk menyakiti orang lain.

Namun hal ini jangan disalah artikan untuk berbuat sewenang-wenang terhadap orang Jawa. Mereka pun bisa bertindak kejam jika diperlakukan seperti itu. Apa landasan ini? Jika kita memperhatikan dalam pakaian adat jawa, di mana menyelipkan keris di bagian belakang, ini mengindikasikan hal tersebut. Maksudnya? Orang Jawa akan selalu bersikap baik dengan siapapun. Mereka menjadikan senjata bukan untuk gagah-gagahan ataupun menakuti. Hanya sebagai alat perlindungan diri. Hanya dalam kondisi terdesak saja keris itu terlepas dari sarungnya.

Karakter orang Semarang pun tidak bisa dijauhkan dari filosofi tadi. Orang Semarang tidaklah selembut orang Jogja atau Solo. Perpaduan nilai dengan berbagai budaya lain akibat menjadi kota pesisir penyebabnya. Namun Semarang juga tidak sekasar Jawa Timuran dalam tata pergaulan.

Di Semarang, ada suatu kampung yang cukup terkenal dengan istilah “senggol bacok”. Istilahnya terdengar mengerikan meski sebenarnya lebih ke arah pesan, “Jangan melukai atau mengganggu, kalau tidak ingin dilukai”. Kampung itu letaknya 6-7 kilometer dari kampungku. Beberapa temanku tinggal di sana.

Saat SMA, aku memaknai istilah “senggol bacok” dan menunjukkannya secara harfiah. Jiwa muda dengan emosi yang masih meletup-letup dan hasrat menunjukkan eksistensi yang masih tinggi menjadi dua hal yang melatarbelakanginya. Namun dengan meningginya tingkat pendidikan, bertambahnya usia, dan status pekerjaanku sekarang, aku tidak lagi mengekspresikan secara harfiah istilah tadi. Ada rasa malu jika bertindak demikian. Sebab jika aku masih bertindak seperti itu, apa bedanya aku dengan preman pasar?

Aku akan memilih cara-cara yang elegant tanpa mengurangi makna. Siapa yang melukai, berarti telah siap dilukai. Siapa yang mengganggu, berarti telah siap diganggu.

Saat fisik kita disakiti ataupun dipermalukan, kita tidak perlu membalasnya dengan hal serupa bukan? Meski saat itu terjadi, harga diri kita pasti terkoyak. Cukup itu menjadi alasan untuk tidak berdiam diri.

Lantas apakah "senggol bacok" sama artinya dengan balas dendam? Tentu saja tidak. “Senggol Bacok” sejatinya hanyalah himbauan bernada keras. Sedangkan suatu himbauan hendaknya dipatuhi. Jika tidak, tentu ada konsekuensi logis. Siapa yang menanam kebaikan, akan memanen kebaikan pula. Begitu juga sebaliknya.

Analogi  kerja "senggol bacok" tak ubahnya sebuah rautan. Saat ada pensil yang menusuknya dalam, saat itu pula ia akan merautnya.

Sabtu, 14 November 2015

Mengapa Perlu Jadi Pengusaha?


Sejatinya hidup adalah pilihan, apakah akan bekerja pada pemerintah, orang lain, maupun usaha sendiri. Masing-masing alasan yang menyertainya tidak bisa disalahkan. Namun kalau boleh mengurai sedikit alasan mengapa perlu jadi pengusaha, maka inilah alasannya:
  1. Ada seni tersendiri
Saat kita bekerja ikut orang lain, maka jobdesk kita sudah ditentutakan atau diatur, tetapi saat kita usaha sendiri kitalah yang menentukan jobdesk kita sendiri, bahkan arah gerak usaha mau bagaimana sangat tergantung kelihaian kita membaca situasi. Tentu akan saja ada kendala ataupun hambatan dalam berusaha. Namun disinilah seninya. Upaya kita menghadapi berbagai kendala itu untuk terus melaju akan menghasilkan cerita yang indah kelak. Seperti banyak cerita sukses pengusaha yang lantas menuliskan autobiografinya.
  1. Dapat memaksimalkan keuntungan
Saat kita bekerja ikut orang tentu pendapatan kita sesuai dengan kesepakatan kita di awal bekerja yang dikenal dengan gaji. Ketika perusahaan meraih untung luar biasa, tetap saja yang kita peroleh berupa gaji. Kalau soal bonus itu mungkin, tapi lebih baik tidak terlalu berharap untuk sesuatu yang bersifat sukarela perusahaan.

Sementara jika kita membuka usaha sendiri, saat usaha kita laris atau ramai, tentu keuntungan yang kita dapatkan juga meningkat mengikuti sejauh mana larisnya usaha kita. Namun jika merugi, bisa menjadi sangat merugi, apalagi masih harus tetap menggaji karyawan yang ikut kita. Namun itulah resikonya. Bekerja pada orang pun saat perusahannya merugi, bayang-bayang akan PHK juga mengintai.
  1. Menyiapkan pekerjaan anak kita kelak
Kelak persaingan kerja di masa depan akan menjadi lebih ketat. Apalagi situasi ekonomi negara yang semakin tidak jelas akan berdampak sangat pada sektor usaha dan penyerapan tenaga kerja. Belum lagi jika tenaga kerja asing dengan skill menengah turut didatangkan seperti isu yang saat ini beredar, semakin sempit saja peluang kerja.


Rasanya tak ada orang tua yang menginginkan anaknya kelak kesusahan bekerja. Meskipun ini terdengar seperti nada pesimis pasalnya siapa tahu anak kita kelak punya kemampuan di atas rata-rata yang justru sangat mudah memilih pekerjaan. Ibarat pepatah, sedia payung sebelum hujan jauh lebih baik daripada mencari payung saat sudah hujan. Cukuplah orang tuanya yang susah payah merintis usaha, jatuh bangun menghadapi beragam kendala. Biarkan anak kita nanti punya banyak pilihan. Memilih bekerja sesuai minatnya, memilih bekerja sesuai perusahaan / instansi yang menerimanya, memilih melanjutkan usaha orang tuanya, atau memilih merintis usaha baru yang sesuai minatnya. Poin pentingnya adalah kelak kita tak membiarkan anak kita begitu mengemis terhadap pekerjaan.
 
Kiranya itulah segelintir alasan mengapa perlu jadi pengusaha. Mungkin akan ada alasan-alasan lain yang menyertai, tapi setidaknya tiga alasan di atas merupakan sokogurunya. Hahaha... Sudah minat sekarang berusaha? Ayolah... Kita hanya tahu jalan di depan rusak saat kita telah berjalan, bukan saat kita masih berdiam diri. Toh kalaupun jalan itu rusak, kita masih punya banyak cara untuk bisa melewatinya bukan?!

Selasa, 02 Juni 2015

SNG dan Petuah Bijak


            SNG atau dalam bahasa awamnya dikenal dengan liputan news daily, yaitu sebuah liputan untuk menyampaikan informasi terbaru kepada masyarakat secara live. Tugas SNG merupakan salah satu tugas yang didalamnya banyak ketidakjelasan, baik soal waktu maupun tempat. Jika ada kejadian luar biasa, jangan harap bisa pulang cepat, tak jarang justru harus siap untuk digeser ke luar kota.

            Namun tak perlu membahas pekerjaan di sini karena pasti jadi nggak asyik. Lalu apa dong yang mau dibahas? Bahas yang ringan-ringan aja dan renyah. Apa itu? Asmara? So pasti! Tapi bukanlah drama atau roman yang akan diulas disini karena aku nggak bakat untuk nulis yang kayak gitu. Terus? Udah, baca dulu aja, jangan banyak nanya mulu! Hahaha…

            Perjalanan ke lokasi live terkadang memerlukan waktu yang lama, apalagi jika macet. Sembari menunggu tiba di lokasi, ada saja bahan obrolan yang mengemuka. Apa yang akan temen-temen baca berikut adalah obrolan yang berkesan buatku. Tepatnya, nasehat yang berkesan buatku.

1.        Pak Mamat TX

Dalam perjalanan menuju Istana Merdeka untuk live Konferensi Pers kenaikan harga BBM, tanpa ada angin tanpa ada hujan, Pak Mamat menasehatiku.

       “An, kalau milih cewek jangan yang cantik mukanya aja, tapi yang cantik hatinya”

          Tentu saja aku kaget mendengar Pak Mamat berbicara sebijak itu. Jauh sekali dari perangai kesehariannya. Padahal belum ada sebutir gorengan pun yang ia santap. Dia bercerita panjang lebar tentang ini itu. Aku menyimaknya sambil manggut-manggut aja. Meski perjalanan dari KPK menuju Istana terjebak macet, tetapi perjalanan itu tidak terasa membosankan.

2.        Yopi TX dan Andi ME

Tugas bersama dua orang pengantin baru tentu memberi konsekuensi tersendiri. Apalagi menempuh perjalanan jauh ke Istana Bogor untuk antisipasi adanya Konferensi Pers dari Presiden perihal kisruh Kapolri.

Sempat diwarnai insiden mobil mogok sehingga harus diganti, perjalanan pun dilanjutkan dengan lancar. Dua orang teman yang baru menikah itu pun angkat suara.

“An, kalau nikah mas kawinnya jangan seperangkat alat sholat sama Al-Qur’an kalau nggak siap sama konsekuensinya” kata Andi.

“Konsekuensinya berat” Yopi menimpali.

“Kalau seperangkat alat sholat, kamu harus bisa menjaga biar istrimu nggak ninggalin sholat. Kalau Al-Qur’an, kamu harus bisa mengajarkan Al-Qur’an kepada istrimu” terang Andi.

“Iya, aku tahu perihal konsekuensi itu. InsyaAllah nanti aku dan istriku kelak berusaha sama-sama untuk belajar dan saling mengingatkan” jawabku coba menanggapi.

3.        Frans ME

          Agak menyimpang sedikit, kali tidak dalam tugas SNG tetapi tugas program Damai Indonesiaku di Bogor. Om Frans mengingatkanku dan menasehatiku.

“An, kapan kamu nikah? Kerjaan udah ada, udah karyawan tetap, nunggu apalagi? Jangan ditunda-tundalah!” cerocos Om Frans.

Nomermu apa? Indosat apa Telkomsel? Ini aku ada kenalan” lagaknya coba membantu.

“Indosat Om” jawabku yang ingin mengikuti sejauh mana ia beraksi.

          Lalu dia mengeluarkan HP-nya. Dengan telunjuk, ia scrool nomer kontak yang ada. Lagaknya nampak meyakinkan bahwa ia memang berniat membantuku. Akhirnya telunjuknya pun mengetuk layar HP-nya.

“Ini An, Indosat. Semok dan banyak duitnya” kata Frans sambil menyodorkan HP-nya.

          Aku pun untuk menghormatinya, maka kutengok HP-nya. Ulalala… aku langsung shock. Ternyata yang ia perlihatkan adalah foto Mbak Heni, teman sedivisiku sendiri. Owalaaah… dasar Om Frans! Becanda mulu! Nggak pernah serius!
         
          Tapi makasih Om Frans atas perhatian dan nasehatnya. Langkahku masih panjang om, tak perlu buru-buru namun tak berarti menunda-nuda juga. Nanti kalau sudah menemukan yang cocok, pasti dikabarin.

4.        Irman UPM

Sebagai senior sekaligus mantan temen kosan, dia banyak memberiku nasehat. Tentu untuk hal-hal yang positif. Namun entah mengapa justru yang terkenang adalah nasehatnya yang nyeleneh.

“An, mumpung belum nikah, nakal-nakal dulu. Jangan sampai nakalnya telat, udah nikah baru nakal” katanya dengan intonasi layaknya memberi nasehat.

Kalau dinasehati seperti ini, aku jadi bingung. Pokoknya semoga kamu lancar aja deh dalam menyiapkan acara pernikahanmu sampai di hari H! Doakan aku agar bisa segera menyusul.

            Akhir kata, semua nasehat teman-teman ini pasti aku dengarkan dan akan aku jadikan sebagai pemicu semangat untuk menyempurnakan setengah agamaku. Terima kasih teman-teman. Sekedar tulisan iseng untuk menghabiskan liburan. Apabila ada kata yang kurang berkenan, dimaafkan aja yaa. Hehehe…