Sabtu, 26 Juli 2014

Nuansa yang Hilang


Dulu aku bosan dan malas rasanya setiap lebaran makan opor ayam. Aku selalu protes pada ibuku untuk membuat masakan yang berbeda. Inovasi kataku. Seperti masak rawon atau apalah. Namun saat ini aku benar-benar kangen opor ayam buatannya dipadu dengan sambal goreng hati dan ketupat hasil karyaku.

Ternyata Allah benar-benar mengabulkan pintaku. Tahun kemarin aku sama sekali tidak merasakan makanan buatan ibuku. Beruntung ada seorang teman bernama Daus yang membawakan ketupat sayur waktu malam takbiran. Akhirnya, merasakan juga makanan lebaran. Ini semakin terasa mengharukan karena nyaris saja aku buka puasa terakhir dengan makan daging babi. Maklum, banyak warung yang sudah tutup. Hanya warung milik orang Cina dan Mc Donald's yang masih buka.

Meski demikian, nuansa lebaran belum sepenuhnya aku rasakan. Apalagi membayangkan bagaimana orang tuaku bersilaturahmi ke rumah tetangga-tetangga yang anak cucunya pada kumpul, sementara anaknya yang cuma semata wayang tak ada di tengah-tengahnya. Hingga berair mata ini membayangkannya. Beruntung aku mendapatkan tugas di lapangan yang mempertemukanku dengan ustad favoritku, Yusuf Mansyur. Ini membuatku bisa lebih menikmati lebaran di perantauan.

Tahun ini jadi lebaran kedua di mana aku tak bisa menikmati makanan buatan ibuku. Mungkin ini karma untukku. Sekarang aku sangat ingin makan opor ayam buatan beliau, membantunya memarut kelapa seperti dulu, belanja ketupat sehabis subuh lalu mengisinya, mengecek air ketupat waktu dimasak, menggoreng kerupuk udang, mencuci stoples, dan memasukkan kue ke dalam stoples. Ah, aku sangat ingin melakukan itu lagi.

Aku kangen nuansa itu. Aku kangen saat ibuku marah-marah karena dapur kotor akibat percikan minyak waktu aku menggoreng krupuk. Aku kangen mengambil ayam kampung yang kami pesan lalu menyembelihkannya ke tetanggaku. Aaaahhh...

Sedikit nuansa ramadhan menjelang lebaran ala rumah telah aku rasakan. Adalah dua orang temanku, Lini dan Dian yang mengantarkan nuansa itu kepadaku. Aku ingat hari-hari terakhir menjelang lebaran, aku selalu mengantarkan ibuku belanja minyak, sirup, kacang mede, tepung, bumbu, stoples, dan serbet / taplak meja. Meski tak serepot ketika mengantarkan ibuku belanja, tapi menemani mereka berdua belanja, terutama saat mencari stoples, sudah cukup menghadirkan nuansa yang hilang di ramadhan kemarin.

Entah lebaran kali ini akan kujalani seperti apa? Tapi aku patut berterima kasih kepada Daus, Lini, dan Dian yang telah membawakan nuansa yang nyaris hilang dalam hidupku. Terima kasih yaa kawan! Kalian sesuatu bingitz...

Kamis, 08 Mei 2014

Nikmat Mana yang Didustakan?




“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman:13) 

Dalam surat Ar-Rahman, ayat di atas ditemukan sebanyak 31 kali. Dalam surat ini, diterangkanlah nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia. Ayat ini selalu muncul setelah Allah menerangkan nikmat yang telah Ia berikan.

Membaca surat Ar-Rahman membuat diri ini terasa kecil sekaligus malu kepada Allah. Banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan, namun sedikit sekali diri ini untuk bersyukur. Bahkan terkadang masih mengeluh atau merasa kurang atas nikmat-Nya. Tak jarang pula justru menggunakan nikmat yang telah Allah berikan untuk hal yang kurang baik. Sungguh-sungguh keterlaluan diri ini. Sungguh tak tahu diri.

***

            Sahabat, sering kita menyepelekan nikmat-nikmat kecil yang telah Allah berikan. Padahal dalam seharian saja, sudah banyak nikmat yang Allah berikan. Mulai dari bangun tidur,  kita masih bernafas dan tubuh masih bisa digerakkan normal. Kita bisa sampai kantor dengan selamat. Kita bisa menyelesaikan pekerjaan dengan lancar. Mempunyai teman-teman yang baik. Masih dapat membeli makanan dan merasakan lezatnya makanan. Bisa pulang lagi ke rumah dengan selamat. Serta nikmat-nikmat lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

            Namun kebanyakan dari kita ternyata lebih banyak mengeluh daripada bersyukur. Jika menemui kesulitan sedikit, mengeluh. Gagal meraih apa yang diinginkan, mengeluh. Mendapatkan situasi yang kurang nyaman, mengeluh. Ada orang yang bersikap kurang baik pada kita, mengeluh. Jika kita diberikan dua buku, satu untuk menulis nikmat dan satu lagi untuk menulis keluhan, mungkin buku kedua yang lebih cepat penuh.

            Saat kita lelah atau ada masalah, kita menjadi mudah mengeluh. Terkadang disertai dengan menyalahkan alat-alat kita ataupun orang lain. Padahal seharusnya tak perlu selebay itu.

            Cara mudah agar kita tak gampang mengeluh sekaligus menemukan semangat lagi adalah dengan mengingat banyaknya nikmat yang telah Allah berikan pada kita. Ingatlah saat Allah menyelamatkan kita dari situasi-situasi sulit. Bersyukurlah atas hal-hal baik yang telah kita dapatkan. InsyaAllah dengan begitu kita jadi tak berminat untuk mengeluh.

            Sejumlah peristiwa sulit pernah saya alami dan Allah telah mengangkat saya dari kesulitan tersebut. Seperti ketika saya kesulitan mengerjakan ujian matematika saat UAN SMA. Hanya delapan nomor yang bisa saya jawab dari minimal tiga belas nomor untuk bisa lulus. Nyatanya, saya bisa lulus meski dengan nilai tipis di atas ambang batas kelulusan. Artinya, ada kuasa Allah yang mengambil peranan hingga saya bisa lulus. Ketika Allah telah berkehendak, tak ada yang bisa melawan kehendak-Nya.

            Kelulusan ini semakin terasa manis sebab sebelum pengumuman kelulusan, saya sudah dinyatakan diterima di dua universitas negeri di Kota Semarang. Saya pintar? Oh, tidak! Jauhlah saya dari kata pintar. Tepatnya saya beruntung, sangat beruntung. Dua kali mengikuti tes perguruan tinggi, kemampuan akomodasi mata saya mengambil peranan penting. Saat otak mengalami kebuntuan, saat itulah mata saya bekerja hingga menuai hasil seperti yang saya sebutkan di atas. Sungguh nikmat Allah tetap terasa indah meski dibungkus dengan cara apapun.

            Pada masa kuliah, saya mengalami masa paling getir dalam hidup. Melewati fase di mana hidup dan mati begitu tipis batasnya. Hendak berjuang mengikuti ujian semester namun justru kaki tertindih ban truk kontainer. Beruntung Allah menghindarkan saya dari kecelakaan yang lebih parah. Sopir truk itu akhirnya memundurkan truknya setelah mendengar teriakan saya dan gedoran pintu pengendara motor di belakang saya. Kaki saya pun bisa terlepas dari jepitan yang menyakitkan dan bisa digunakan untuk beraktivitas sampai sekarang. Padahal truk itu bisa saja terus maju karena kendaraan di depannya telah maju. Jika itu terjadi, pasti kaki saya akan terlindas truk dan badan saya akan terpelanting ke badan truk. Entah apa jadinya? Beruntung hal tersebut tak pernah terealisasi. Terima kasih Allah.

            Di penghujung kuliah, saya sempat melakukan dagelan yang nyaris mengancam kelulusan saya. Bisa-bisanya saya sidang skripsi tapi tidak membawa skripsi, hanya membawa catatan kecil saja. Ini membuat dosen-dosen penguji saya murka dan memarahi saya. Untung saja sidang skripsi tetap dilanjutkan dan diluar dugaan saya dinyatakan lulus dengan nilai yang sesuai harapan, bahkan dengan revisi yang sangat sedikit. Saya pun semakin tersenyum manakala mengetahui IPK akhir saya ternyata sesuai request dalam doa yang saya panjatkan. Tidak kurang, tidak lebih. Padahal sebelumnya hal ini seperti mustahil. Sebuah happy ending yang luar biasa dari Allah untuk menutup cerita perkuliahan.

            Lepas dari masa kuliah lantas memasuki masa-masa kegalauan. Apalagi jika bukan penantian kerja. Menghabiskan pagi dengan menonton acara musik di tv membuat saya bergumam, “Alangkah serunya yaa jika bisa bekerja di balik layar televisi. Bekerja jadi apa saja deh!”. Setelah singgah di beberapa tempat, akhirnya Allah membawa saya berada di balik layar tv sungguhan. Benar-benar di balik layar, terlibat dalam proses produksi, dan muncul nama saya pada credit tittle di akhir program. Sungguh terasa nikmat saat apa yang kita inginkan dapat kita rasakan.

            Itulah beberapa nikmat dari Allah yang senantiasa membekas di ingatan saya. Tentu masih banyak sekali nikmat Allah yang lain, yang pasti tidak akan terhitung. Manis maupun getir cerita hidup yang pernah kita alami penting sekali untuk diingat karena bisa menjadi motivasi sekaligus perisai diri. Saat kita berada dalam posisi terjepit, kita harus berprasangka baik kepada Allah dan optimis akan ada jalan keluar dari himpitan masalah tersebut.  Sedangkan saat kita diberikan kesenangan, kita harus bersyukur dan mengingat saat kita mengalami kesusahan agar kita tidak bertindak melampaui batas. Apalagi menggunakan rizki-Nya untuk hal yang kurang baik atau maksiat. Malulah kita jika akan menggunakan rizki-Nya untuk hal yang kurang baik sementara dalam doa kita masih memohon dan mengharapkan rizki-Nya.

            Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa apa yang saya tulis ini hanyalah untuk napak tilas perjalanan hidup saya yang tak lain bertujuan untuk mengingatkan diri sendiri. Saya menggunakan contoh dari pengalaman pribadi karena itulah contoh yang paling mudah. Tidak ada maksud untuk pamer atau sombong.

            Akhir kata, marilah kita mensyukuri setiap nikmat yang Allah berikan, sekecil apapun. Janganlah kita menjadi manusia yang mudah mengeluh dan selalu merasa kurang. Pergunakalanlh nikmat dari Allah dengan bijak dan tepat. Apabila ada nikmat berlebih, marilah kita berbagi dengan sesama.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Terima kasih sudah membaca! (^..^)


Nama Bukan Sekedar Panggilan dan Identitas



            Nama memang memiliki fungsi sebagai panggilan maupun sebagai identitas. Adanya nama membuat komunikasi antar individu menjadi tidak kaku. Paling tidak, jika orang telah mengenal, maka akan memilih memanggil nama daripada dengan kata “heh kamu”, “satpam”, “bakso”, dan sejenisnya. Seseorang juga akan merasa lebih dihargai kala disapa atau dipanggil dengan namanya daripada dengan panggilan yang lain.

            Adapun nama sebagai identitas digunakan untuk keperluan administrasi. Ini juga sama pentingnya dengan fungsi sebagai panggilan. Kesalahan tulis pada akta, ktp, ijazah, buku nikah, paspor, rekening, atau surat berharga lainnya dapat berakibat fatal.

            Namun di luar dua fungsi tadi, sebenarnya nama juga bisa mengandung doa dan harapan orang tua kita. Mereka tentu tidak sembarangan memilihkan nama untuk anaknya. Pasti ada arti-arti penting dibalik setiap nama yang diberikan kepada anak-anaknya.

***

            Dalam tulisanku kali ini, aku ingin bernarsis ria sejenak. Mensyukuri sekaligus menikmati nama yang diberikan oleh orang tuaku.

Huda Rahadian, begitulah yang tertulis di akta kelahiranku. Nama yang sederhana, tidak bertele-tele, namun mengandung arti dan harapan. Dengan nama ini pula, di berbagai identitas, namaku tidak pernah disingkat karena masih memenuhi space yang disediakan. Tak perlu repot pula seandainya membuat paspor, karena terdiri dari dua kata seperti yang disyaratkan.

            Huda, banyak orang yang sudah mengetahui maknanya. Kata huda diambil dari Al-Qur’an, yang berarti pertunjuk. Hudallinnas artinya pertunjuk bagi manusia, hudalilmuttaqin artinya petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Karena itu pula, kata huda sering digunakan dalam penamaan masjid atau mushola, termasuk mushola yang berada di dekat rumahku, yang diberi nama mushola Nurul Huda.

            Huda adalah nama pemberian dari ayahku. Ia menilai nama tersebut cocok dan tepat untuk disematkan padaku. Apalagi setelah mendengar komentar positif dari seorang kyai di daerah kami. “Bener kuwi, apik jenenge. Huda iku pituduh”, begitu kata beliau dalam bahasa Jawa. Dengan penamaan ini, tampak ada semacam harapan agar kelak aku bisa menjadi petunjuk, setidaknya untuk orang-orang disekitarku. Aku diharapkan bisa sebagai jalan untuk mengangkat kehidupan keluarga menjadi lebih baik.

            Rahadian, kata yang mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Dari susunan hurufnya pun belum bisa diterka berasal dari bahasa apa kata ini. Namun ini tak berarti bahwa Rahadian hanya kata yang indah didengar namun tak memiliki makna yang spesifik. Ada dua versi cerita untuk mengurai makna dari kata rahadian.

            Pertama adalah versi Ibuku. Tentu karena dialah yang memberikan nama itu kepadaku. Menurut beliau, rahadian berasal dari kata rahardjo, yang berarti keselamatan. Jika kemudian digabung dan diletakkan di belakang kata huda, maka akan memiliki makna sebagai petunjuk keselamatan. Begitu kira-kira arti nama Huda Rahadian versi pertama. Mengapa versi pertama? Karena dalam perjalanan hidupku, aku menemukan arti lain dari kata rahadian.

            Penemuan arti rahadian versi kedua terjadi ketika aku sudah menduduki bangku SMA. Saat itu ibuku yang seorang guru SD habis pulang mengantar murid-muridnya melakukan study tour. Ketika pulang, ia membawa buku kumpulan cerita-cerita daerah yang didapat dari orang yang berjualan di bus. Kebetulan di sekolah ada tugas untuk membuat cerita. Akhirnya, kubacalah buku tersebut untuk mencari inspirasi dan referensi. Hingga tiba di suatu cerita berjudul Asal Mula Reog Ponorogo. Bagaimana mula terjadinya reog ponorogo tak perlu aku ceritakan, karena ada yang lebih menarik untuk diceritakan, yaitu tersebutnya kata rahadian.

            Dalam buku tersebut diterangkan bahwa rahadian adalah gelar yang diberikan kepada putra-putra raja-raja Majapahit. Dalam perkembangannya, rahadian kemudian disingkat menjadi raden. Jika menyimak keterangan di atas, maka rahadian itu sama dengan raden dan sama dengan pangeran. Entah mengapa aku merasa arti rahadian di buku ini lebih tepat dibanding dengan yang pernah ibu sampaikan. Mungkin karena di buku ini nyata tertulis rahadian dengan susunan huruf yang sama persis dengan namaku.

            Aku pun menyampaikan hal ini kepada ibu. Ibuku juga terkejut mengetahuinya. Namun beliau tidak mempermasalahkannya. Lantas ibuku bercerita jika dia dulu suka dengan nama rahadian. Rahadian adalah nama anak dari rekan kerja ibuku yang juga seorang guru. Waktu itu, Ibuku berpikir dan menganggap bahwa rahadian itu berasal dari kata rahardjo.

Kesimpulannya, arti rahadian versi ibu adalah arti yang bersifat anggapan. Oleh karena itu, aku memutuskan mengambil arti rahadian versi buku cerita yang menyatakan bahwa rahadian itu ya raden, raden itu ya pangeran. Dengan demikian Huda Rahadian bisa diartikan sebagai Pangeran yang memberi petunjuk atau diartikan Pangeran yang menjadi petunjuk.

            Terkesan memaksakan memang karena kata rahadian berada di belakang. Yah anggap saja kita melakukan pemaknaan seperti dalam bahasa Inggris bahwa kata yang utama ada di belakang, sementara kata yang di depan sebagai penjelas. Contohnya nih, red car artinya mobil merah bukan merah mobil, atau tall man yang berarti orang tinggi bukan tinggi orang. Jadi wajarlah bila huda rahadian dimaknai seperti yang telah aku sebutkan di atas. Hehehe...

            Dengan adanya makna yang sedemikian rupa, wajarlah bila aku kesal ketika ada orang yang salah menulis namaku. Sejak aku SD sampai sekarang bekerja, masih saja ada orang yang bertindak demikian. Yang paling sering adalah kesalahan menulis rahadian menjadi rahardian. Rahadian itu artinya pangeran, rahardian artinya apa? Baru-baru ini ada juga yang salah menulis nama depanku. Huda ditulis hudah. Huda itu artinya petunjuk, hudah itu artinya apa? Untung tidak ditulis kuda. Hmmmmph....

            Kalau orang Jawa menyikapi hal ini akan bilang, “Ora mbancaki bubur abang putih kok ngganti-ngganti jeneng!” Artinya, orang tidak mengadakan syukuran bubur merah putih (tepatnya coklat putih) kok ganti-ganti nama orang?!

            Terkadang orang menyepelekan hal sekecil ini, padahal beda satu huruf sudah bisa beda maknanya. Ingatlah nama itu berisi doa dan harapan. Jangan membuat doa dan harapan itu melenceng dengan kesalahan menulis satu huruf! Hargai juga orang tua yang mungkin bisa berhari-hari memikirkan nama untuk anaknya. Terima kasih!


Rabu, 22 Januari 2014

Titik Hitam



Seorang Guru mengambil secarik kertas HVS putih dan sebuah spidol hitam. Kemudian dia membuat sebuah titik hitam di tengah-tengah kertas HVS dengan menggunakan spidol tersebut. Lalu dia menghampiri muridnya dan bertanya:

Guru:   “Nak, apa yang kamu lihat di kertas ini?”
Murid: “Sebuah titik hitam Bu.”
Guru:   “Yakin hanya sebuah titik hitam saja?”

            Sang murid lalu mengambil kertas dari tangan gurunya. Dia raba, dia bolak-balik, lalu dia amati kertas putih itu dengan seksama.

Murid: “Iya Bu, hanya ada sebuah titik hitam.”
Guru:   “Nak, yang benar adalah ada sebuah titik hitam kecil di tengah-tengah selembar kertas HVS putih. Kamu kalau mengamati objek harus secara keseluruhan yaa.”
Murid: “Iya Bu.”

***

            Sahabat, sering kita berpandangan seperti murid di atas. Melihat suatu hal, melihat suatu objek, hanya dari yang mudah dilihat, baru didengar, dan mudah diingat. Mengesampingkan hal-hal lainnya yang sebenarnya masih dalam kesatuan. Terkadang, informasi yang minim itulah yang kita sampaikan ke orang lain.

            Alangkah baiknya apabila informasi yang minim itu adalah hal positif sehingga bisa menutupi hal negatif yang ada pada suatu obyek. Namun sebaliknya, jika informasi minim itu adalah hal negatif dan menepikan banyak hal posiif yang ada padanya, maka itu sungguh ironis.

            Namun kenyataannya, lebih sering terjadi pernyataan yang kedua. Hingga muncul peribahasa Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga ataupun peribahasa Inggris Don’t Judge The Book by Cover.

            Dalam kehidupan nyata, kita ambil contoh pada apa yang dialami Aa’Gym. Semula dakwahnya begitu digemari namun ketika ia berpoligami dakwahnya lalu dijauhi. Orang yang tadinya dipuja menjadi dibenci. Padahal poligaminya dia sama sekali tidak merugikan jamaahnya karena itu merupakan hal yang bersifat pribadi. Agama pun tak melarang. Penyampaian dakwah beliau sebenarnya amatlah bagus dengan bahasa persuasif yang sangat lembut. Ini saya rasakan ketika membaca tulisan beliau dalam sebuah bulletin Sholat Juma’at pasca beliau berpoligami.

            Pada akhirnya, penyampaian informasi yang minim atau hanya berfokus pada hal negatif menjadi mula bagi pembunuhan karakter. Suatu tindakan yang lebih kejam dari pembunuhan fisik itu sendiri. Apalagi jika hal itu disampaikan berulang-ulang dengan intensitas yang tinggi. Orang akan menjadi lupa dengan apa yang pernah didakwahkannya. Yang tersisa adalah image “uztad kok berpoligami, kasihan istri pertamanya”.

            Pada kasus yang sedikit berbeda, yaitu mengenai serangan Amerika Serikat ke Irak dengan alasan Irak memiliki senjata pemusnah massal. Banyak negara yang setuju dengan argumen Amerika meski pada kenyataannya senjata pemusnah massal tidak pernah ditemukan di Irak. Mengapa bisa banyak negara percaya begitu saja pada Amerika?

            Kita kembali ke percakapan antara guru dan murid. Namun dengan menambah dua orang murid yang menjadi sahabat murid di atas. Satu murid duduk di sebelahnya dan satu lagi duduk di belakangnya. Murid kedua yang ada di sebelah murid pertama tentu melihat langsung kertas yang dibawa gurunya. Dia pasti juga memperhatikan saat murid pertama meraba dan membolak-balik kertas. Akhirnya, ketika dia ditanya gurunya, ia pun menjawab hanya ada titik hitam karena dia menganggap temannya telah meneliti dengan sungguh-sungguh. Murid ketiga yang berada di belakang murid pertama sebenarnya tidak terlalu melihat jelas dengan apa yang ada di kertas. Namun karena kedua sahabatnya telah menyatakan hanya ada titik hitam, maka dia pun menjawab hanya ada titik hitam.

            Pola seperti ini mirip dengan awal kejadian invasi Amerika ke Irak. Amerika dianggap sebagai negara yang paling tahu dengan segala teknologi canggihnya. Negara-negara sahabat Amerika lantas mengikuti tindakan Amerika dan ikut mensyiarkan bahwa Irak mempunyai senjata pemusnah massal. Negara-negara lain akhirnya ikut-ikutan percaya bahwa Irak mempunyai senjata pemusnah massal setelah disampaikan berulang-ulang oleh Amerika dan kroni-kroninya berikut potensi bahayanya.

            Kesimpulan apa yang diperoleh? Secara ilmu propaganda, isu yang disampaikan berulang-ulang lama-lama akan menjadi kebenaran. Kebenaran bersama oleh sekelompok orang yang percaya, mengikuti, dan menjaga isu tersebut. Terlepas isu tersebut benar atau tidak. Setelah Saddam Husein jatuh dan senjata pemusnah massal tidak ditemukan, tidak ada teriakan yang menyalahkan Amerika dan sekutunya, apalagi sanksi. Yang ada adalah kerugian yang dialami oleh masyarakat Irak, yang kini kehidupannya menjadi kacau balau.

            Hmm... Setelah berbicara terlalu jauh dan sedikit berputar-putar, sebenarnya apa sih yang ingin disampaikan penulis? Di sini, saya cuma mau mengajak agar kita bisa melihat suatu hal, suatu objek secara keseluruhan. Bukan dari yang mudah dilihat atau sering didengar saja, bukan hanya dengan memperhatikan satu sisi dengan mengesampingkan sisi-sisi yang lain. Lihatlah suatu objek secara utuh dan menyeluruh.

            Akhir kata, semoga tulisan yang agak ngelantur ini ada manfaatnya dan bisa menjadi bahan renungan. Atas perhatiannya, terima kasih.

Selasa, 29 Oktober 2013

Story di Balik Shooting Hijab Stories



            Hijab Stories merupakan program acara baru di tv One yang akan tayang perdana pada akhir bulan Oktober atau awal bulan November 2013. Program ini mengangkat kisah nyata perjalanan seorang muslimah dalam mengenakan hijab. Mulai dari datangnya hidayah, munculnya cobaan, hingga nikmat yang akhirnya dirasakan setelah berhijab. Tak ketinggalan pula tausiah-tausiah sarat makna dari ustad ternama menyikapi perjuangan seorang muslimah dalam berhijab.

            Untuk content acara tidak akan secara detail saya ceritakan di sini. Namun saya menjamin bahwa acara ini menarik untuk ditonton karena menyajikan kisah nyata yang dikemas santai tapi sarat dengan muatan dakwah. Di sini, saya akan lebih bercerita mengenai hal-hal unik di balik layar yang mengiringi shooting Hijab Stories ini.

1.    Kru telah diberangkatkan meski budget belum di tangan.

Shooting acara ini bisa dibilang cukup mendadak. Saya diberitahu untuk mengawal acara ini pada pukul sembilan malam. Dua belas jam sebelum jadwal keberangkatan kru. Repotnya, budget belum diambil pada malam itu. Saya pun berharap petugas kasir datang pagi agar budget bisa segera diambil.

Pagi yang dinantikan tiba. Saya sudah berada di kantor sejak pukul setengah delapan. Namun ruang kasir masih nampak kosong, saya pun mulai resah dan gelisah. Sambil berkoordinasi dengan kru, sesekali mata saya menengok ke ruang kasir. Masih saja kosong.

Pagi pun mulai beranjak. Satu per satu teman-teman unit berdatangan. Cling. Muncul harapan baru dengan kedatangan mereka. Saya lantas bertanya satu per satu kepada mereka. Adakah di antara mereka yang mempunyai uang senilai dengan budget operasional Hijab Stories di rekeningnya. Niatnya, saya mau minta tolong agar ditransferkan dulu ke rekening saya lalu nanti diganti setelah budget keluar dari kasir.

Akan tetapi harapan seperti tinggal harapan. Tak ada satu pun unit yang telah datang pagi itu mempunyai cukup uang di rekeningnya. Kru sudah mau berangkat, shooting harus segera dilakukan, maka hanya dengan bermodal lima ratus ribu sisa budget program blocking Jasa Rahardja, saya memberanikan untuk memberangkatkan kru. Uang sebesar itu sendiri sebenarnya hanya cukup untuk menutup kebutuhan awal. Untuk mengamankan program secara keseluruhan, jelas jauh dari cukup. Budget operasionalnya sendiri mencapai 7,7 juta rupiah. Sungguh perjudian kebijakan yang mesti dilakukan sambil berharap budget secepatnya bisa cair dan ditransfer.

Ketika kaki sudah hendak melangkah ke mobil, tiba-tiba saya berpapasan dengan Abi, rekan sesama unit. Pucuk dicinta ulam tiba. Pertolongan datang tepat pada waktunya. Dia mengaku masih mempunyai simpanan yang cukup di rekeningnya dan bersedia untuk membantu saya. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa berangkat mengawal kru dengan tenang. Sampai di lokasi, saya segera mencari ATM dan sudah ditransfer. Makasih Bi, berkat engkau program Hijab Stories berjalan lancar

2.    Pertama kalinya menawar makanan di restoran.

Lokasi shooting mengambil tempat di sebuah restoran di daerah Jakarta Selatan. Tempatnya tenang serta ada kolam dengan gemericik air yang menambah syahdu suasana. Di atas meja makan tergantung lampion-lampion indah yang mampu memberikan kesan etnik secara glamour.

Pada program ini, makanan tidak disiapkan oleh catering langganan. Sebagai konsekuensinya, saya harus mencari makanan yang sesuai budget. Produser meminta saya untuk tidak mencari makan dari luar, karena shooting kita tidak dikenakan biaya sewa tempat. Sebagai timbal baliknya, sangat diharapkan kita memesan makan di restoran tersebut.

Saya pun lalu menemui pemilik restoran. Oleh beliau saya ditawarkan beragam makanan, dari yang tradisional sampai internasional. Halaman menu yang pertama dibuka adalah yang paling mahal. Mendengar apa yang beliau sampaikan, saya cuma manggut-manggut. Ketika beliau sudah selesai bicara, ganti saya yang bicara.

Inti pembicaraan saya adalah menayakan makanan yang harganya sesuai dengan budget. Buku menu pun akhirnya dibolak-balik. Namun tidak ada satu makanan pun yang harganya mau menuruti budget. Harga makanan paling murah adalah tiga puluh ribu, sementara anggaran untuk makan per orang hanya delapan belas ribu.

Namun saya tak patah semangat. Saya pun menerapkan metode yang sering saya pergunakan untuk membeli cabai di pasar waktu masih kecil. Memang tak ada usaha yang sia-sia. Melalui diplomasi yang alot, akhirnya tercipta kesepakatan yang melegakan. Kami akan dimasakkan nasi goreng dengan harga dua puluh ribu per orang.

Menawar makanan di restoran seperti ini merupakan pengalaman pertama bagi saya sejak dilahirkan. Ini akan saya kenang sebagai cerita untuk anak cucu dan handai taulan agar jangan sungkan menawar harga makanan ketika di restoran. Namun kalau gagal, malu ditanggung sendiri yaa... Hehehehe....

3.    Terenyuh dengan cerita narasumber.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, acara ini selalu menghadirkan narasumber di tiap episodenya untuk menceritakan pengalamannya mengenakan hijab. Dengan dipandu Host, narasumber akan bercerita awal mula ia berhijab, kesulitan yang dialami, hingga nikmat manakala telah beristiqomah dalam berhijab.

Saya menyimak dengan seksama setiap percakapan. Namun hanya beberapa poin saja yang akan saya ceritakan di sini. Hitung-hitung biar bikin penasaran teman-teman lalu pada nonton deh nanti. Hehehe...

Saat itu, sang muslimah menceritakan kesulitan yang dialaminya pada masa awal mengenakan hijab. Kesulitan-kesulitan itu datang dari lingkungan di sekitarnya sendiri, termasuk hambatan dari pekerjaannya, hingga dia memutuskan untuk keluar. Namun berkat kegigihan dan keistiqomahannya dalam berhijab, ia mendapatkan rezeki baru dan menorehkan prestasi internasional. Subhanallah, hijab memang bukan penghalang rezeki seseorang.

Apa yang dialami muslimah tadi dengan pekerjaannya mengingatkan saya dengan cerita beberapa teman yang mengundurkan diri dari proses rekruitmen di perusahaan gara-gara diminta menanggalkan hijabnya. Sekarang, mereka pun telah mendapatkan pekerjaan yang sesuai tanpa harus melepas hijab. Menegakkan syariat di negara yang mayoritas penduduknya muslim ternyata juga tidak mudah. Ini sungguh ironis dan mencederai nilai-nilai demokrasi. Berhijab merupakan bagian dari beribadah menurut agama dan kepercayaan yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar. Tidak pantas seseorang atau institusi melarang apa yang tidak dilarang oleh agama dan negara.

Kagum akan keistiqomahan muslimah tadi, pasti! Apalagi dengan perjuangan yang harus ditempuhnya di zaman seperti sekarang, di ibukota lagi. Padahal kebanyakan wanita di sini justru mengejar dan mengumbar kecantikan, bahkan di beberapa sudut kota, kecantikan menjadi komoditas untuk diperdagangkan.

Kawan, cantik itu tidak harus seperti Barbie, yang langsing dengan rambut panjang tergerai. Cobalah tengok Al-Qur’an dan temukanlah definisi cantik menurut surat An-Nur ayat 31 dan surat Al-Ahzab ayat 59. Rule of beauty yang membuat wanita menjadi lebih mulia, lebih terjaga, dan lebih dihargai.

Muslimah yang tetap istiqomah dalam menegakkan syariat di tengah carut-marutnya zaman bagaikan oase di tengah gurun. Saya berharap, agar kelak mendapatkan teman hidup yang seperti itu. Amin.

4.    Ustad minta minum jus Amma.

Kejadian unik ini terjadi tak lama setelah ustad pengisi acara hadir di lokasi. Ketika beliau sedang bersiap untuk pengambilan gambar, produser kami menawarinya minum. “Tad, mau minum jus apa?”, tanya produser kami. Dengan cepat, dijawablah oleh ustad, “Jus Amma ada?”. Serta merta semua kru yang ada di sekelilingnya tertawa terbahak-bahak. Entah karena terkejut, mati kutu, atau salah tingkah, produser kami pun langsung memerintah, “Tuh, pesenin tuh!”. Sempat saling lihat antar kru karena bingung mau dipesankan apa, akhirnya kami berinisiatif memesankan beliau jus jeruk. Ustad ini tahu saja kalau kru sudah mulai capek dan mengantuk, dikeluarkan deh banyolannya. Terima kasih Tad, kami jadi segar kembali.

  Secara keseluruhan proses shooting Hijab Stories berjalan lancar dan menyenangkan. Lelah pun tak begitu terasa meskipun kami berangkat sejak pukul setengah sembilan pagi dan sampai kantor kembali pukul setengah delapan malam. Mungkin karena kesamaan visi antara saya dengan acara ini, yang menganggap hijab itu penting untuk wanita sehingga dikemaslah dakwah yang santai, menarik, namun mengena.

Jujur, saya lebih menyukai untuk berada di acara yang ada muatan dakwahnya seperti ini. Di sini, selain bekerja, jiwa saya yang kering kerontang terbasuh kembali oleh tausiah-tausiah yang disampaikan ustad pengisi. Ilmu agama pun bisa bertambah. Ibaratnya, sambil menyelam minum jus amma. Hehehe...

Sebagai penutup, saya berharap bahwa acara kami maupun tulisan sederhana saya ini dapat memberikan manfaat atau inspirasi bagi kita semua. Mohon maaf apabila dalam penulisan, terdapat tata bahasa yang kurang menyenangkan.

Oya, untuk teman-teman yang berhijab boleh juga menceritakan awal mulanya ketika berhijab dan bagaimana rasanya berhijab. Dengan demikian, semoga teman-teman yang belum berhijab bisa tertular untuk berhijab. Terima kasih.




Selasa, 16 April 2013

Ke Mana Ilmu Kita?



          Orang yang sedang belajar sering diibaratkan dengan menimba ilmu. Kita susah payah sekolah, kuliah, mengikuti majelis taklim / pengajian, maupun mengikuti seminar / kursus. Banyak waktu, tenaga, pikiran, serta biaya yang kita keluarkan untuk mendapatkan ilmu atau memperdalam ilmu. 

Ibarat orang menimba air, kita telah berjalan jauh membawa ember kosong kemudian kita turunkan timba dan menariknya pelan-pelan disertai dengan cucuran keringat karena dalam dan berat. Kita lakukan itu berulang-ulang hingga semua ember yang kita bawa terisi penuh. Apabila bak ataupun gentong di rumah kita masih belum penuh, kita pun menimba lagi.

 Dalam belajar menuntut ilmu tidaklah mudah. Ingat berapa kali ada hambatan maupun kesulitan yang kita hadapi sehingga membuat kita marah, kesal, resah, maupun khawatir. Hujan dan sakit sering menjadi bumbu cerita. Hingga akhirnya kita bisa menggenapkan ilmu kita dan lulus. Semua jerih payah kita juga tidak akan menjadi sia-sia karena Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu seperti dalam firman-Nya:

“Allah akan meninggikan (mengangkat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat” (QS 58 : 11)

            Dunia kerja berbeda dengan dunia kuliah ataupun sekolah. Semua orang setuju akan ini. Dalam bekerja sering tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang kita pelajari. Banyak orang yang tidak mempermasalahkannya. Tapi sering kita lupa nilai-nilai dasar ketika bekerja. Nilai-nilai yang mungkin ditanamkan manakala kita masih SD. Hal yang sangat sederhana yang sulit dilakukan oleh orang dewasa. Misalnya kejujuran, disiplin, ketaatan, kerajinan, tenggang rasa, saling menghormati, dan sebagainya. 

            Di tingkat sekolah yang lebih tinggi, apalagi jika kita memperdalam ilmu agama. Mempelajari banyak hal-hal yang nampak sederhana namun sebenarnya tidak sederhana karena membawa konsekuensi besar. Misalnya mengambil atau memakan yang bukan hak kita, konsekuensinya doa dan amalan kita lainnya akan kita tergadai alias sulit dikabulkan sebagaimana disampaikan hadits berikut:

”Seorang lelaki melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, mukanya berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit dan mengatakan,’Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!’ Padahal makanannya haram dan mulutnya disuapkan dengan yang haram, maka bagaimanakah akan diterima doa itu?” ( HR. Muslim)

”Ketahuilah, bahwa suapan haram jika masuk dalam perut salah satu dari kalian, maka amalannya tidak diterima selama 40 hari.” (HR. At Thabrani).


Sudah sangat jelas besarnya resiko yang akan kita tanggung manakala kita makan dengan makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal. Bayangkan doa dan amalan kita lainnya tidak diterima, bagaimana mungkin kita bisa melanjutkan hidup saat doa kita sudah tidak dikabulkan?

Namun oleh sebagian kalangan, mengambil sedikit yang bukan haknya acap kali dinilai wajar. Entah itu dinamakan uang bensin, uang capek, uang terima kasih atau apalah. Mungkin sudah banyak orang yang masa bodoh dengan peraturan maupun masalah agama. Yang dipikirkan bukan lagi masalah benar atau salah, boleh atau tidak boleh tapi bagaimana mendapatkan yang lebih dan lebih dari haknya meskipun haknya juga telah terpenuhi.

            Mereka yang bertindak demikian bukan berarti mereka tidak tahu atau tidak punya ilmu, namun entah ditaruh di mana ilmu mereka. Begitu pula dengan agama mereka, apakah tetap dipelihara dalam hati, pikiran, dan tindakan atau hanya tinggal tersurat di KTP saja. 

            Kita susah payah menimba ilmu, apakah akan kita biarkan ilmu kita tumpah berceceran di pinggir jalan? Ataukah kita tinggalkan begitu saja ember ilmu kita di sumur tempat kita menimba tanpa membawanya pulang? Atau justru terang-terangan kita buang ilmu kita karena kita merasa sudah kadaluwarsa? 

Yang sebenarnya harus dicermati apakah kita orang yang berilmu bertindak sama dengan orang yang tidak punya ilmu? Lalu apa bedanya kita dengan orang yang tidak punya ilmu? Apakah orang yang telah diberikan hidayah dan tahu agama bertindak sama dengan orang atheis yang tidak mengenal agama? Apakah seorang sarjana memiliki cara berpikir dan bertindak sama dengan lulusan SMP atau SMA?

Jika memang demikian, mengapa kita harus sekolah tinggi-tinggi, mendatangi majelis taklim atau pengajian jika setelah kita kembali tidak ada bedanya dengan sebelum kita pergi. Padahal ancaman terhadap orang yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya sangatlah besar seperti dalam kedua hadits berikut:

“Seorang alim (berpengetahuan) yang tidak beramal (mengamalkan ilmunya) seperti lampu yang membakar dirinya sendiri” (HR Ad-Dailami)

“Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya” (HR Al-Baihaqi)

            Meskipun konsekuensinya sangat besar apabila kita tidak mengamalkan ilmu kita, tapi masih banyak orang yang mengabaikannya. Mereka seperti punya dalil sendiri yang diberi nama fleksibel, wajar, dan biasa. Fleksibel, wajar, biasa adalah kata-kata ambigu yang tidak pernah memiliki definisi maupun batasan yang jelas. Sampai mana orang dikatakan fleksibel atau wajar? Sampai mana orang dikatakan aneh ataupun kaku? Itu semua merupakan kata-kata yang berada dalam lingkaran abu-abu. Dengan kata lain mentolerir hal yang salah menjadi kebenaran bersama dan diturunkan secara turun temurun.

Pikiran saya tetap sulit menerima ini. Yang saya takutkan bukan pada hal yang bersifat keduniawian melainkan lebih kepada tanggung jawab kepada Yang di Atas. Kita mengetahui hal yang salah tetapi kita tetap melakukan hal yang salah. 

Lalu apa gunanya kita mempunyai ilmu untuk mengetahui mana yang benar dengan mana yang salah. Apa hal ini juga yang nanti kita ajarkan ke anak-anak kita? Apakah kita bangga menjadi orang yang bergelimang harta tapi tidak semuanya halal? Apa ini juga yang kita mau dari anak-anak kita kelak? Apakah kita bangga dan senang memberikan makanan, pakaian, dan mainan kepada istri dan anak kita dengan uang yang abu-abu? Bukankah dengan begitu kita telah menjerumuskan mereka, mengajak mereka kepada hal yang dimurkai Allah.

            Kalau kita membeli barang dan barang tersebut kemudian tidak berfungsi pasti kita akan membawanya ke toko di mana kita beli dan meminta ganti dengan yang baru atau meminta ganti rugi. Pernah tidak terlintas dalam pikiran kita jika kita menjadi barang yang tidak berfungsi? Menjadi seorang anak yang jauh dari harapan orang tua? Pernahkah kita berpikir betapa kecewanya mereka yang mungkin lebih besar dibandingkan dengan kecewanya kita membeli produk gagal?

Jika barang bisa diganti tetapi jika kita telah telanjur mengecewakan orang tua bagaimana? Apakah kita mau minta dimasukkan kembali dalam kandungan dan diganti dengan anak yang sesuai harapan? Tidak mungkin! Lalu apakah kita mau mengganti seluruh biaya yang dikeluarkan orang tua sejak kita dalam kandungan hingga kita sebesar sekarang?
 
            Ada istilah bahwa ilmu itu lentera kehidupan. Dikatakan demikian karena ilmu dapat menjadi penerang langkah kita sehingga kita bisa memijak di tempat yang benar, bukan tempat yang salah. Namun jika kita telah punya ilmu lalu tetap memilih memijak di tempat yang salah, maka ada di mana ilmu kita? Apa gunanya kita belajar dan punya ilmu? Sebuah tulisan yang saya harap bisa menjadi cermin untuk diri kita.




.