Kamis, 08 Mei 2014

Nama Bukan Sekedar Panggilan dan Identitas



            Nama memang memiliki fungsi sebagai panggilan maupun sebagai identitas. Adanya nama membuat komunikasi antar individu menjadi tidak kaku. Paling tidak, jika orang telah mengenal, maka akan memilih memanggil nama daripada dengan kata “heh kamu”, “satpam”, “bakso”, dan sejenisnya. Seseorang juga akan merasa lebih dihargai kala disapa atau dipanggil dengan namanya daripada dengan panggilan yang lain.

            Adapun nama sebagai identitas digunakan untuk keperluan administrasi. Ini juga sama pentingnya dengan fungsi sebagai panggilan. Kesalahan tulis pada akta, ktp, ijazah, buku nikah, paspor, rekening, atau surat berharga lainnya dapat berakibat fatal.

            Namun di luar dua fungsi tadi, sebenarnya nama juga bisa mengandung doa dan harapan orang tua kita. Mereka tentu tidak sembarangan memilihkan nama untuk anaknya. Pasti ada arti-arti penting dibalik setiap nama yang diberikan kepada anak-anaknya.

***

            Dalam tulisanku kali ini, aku ingin bernarsis ria sejenak. Mensyukuri sekaligus menikmati nama yang diberikan oleh orang tuaku.

Huda Rahadian, begitulah yang tertulis di akta kelahiranku. Nama yang sederhana, tidak bertele-tele, namun mengandung arti dan harapan. Dengan nama ini pula, di berbagai identitas, namaku tidak pernah disingkat karena masih memenuhi space yang disediakan. Tak perlu repot pula seandainya membuat paspor, karena terdiri dari dua kata seperti yang disyaratkan.

            Huda, banyak orang yang sudah mengetahui maknanya. Kata huda diambil dari Al-Qur’an, yang berarti pertunjuk. Hudallinnas artinya pertunjuk bagi manusia, hudalilmuttaqin artinya petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Karena itu pula, kata huda sering digunakan dalam penamaan masjid atau mushola, termasuk mushola yang berada di dekat rumahku, yang diberi nama mushola Nurul Huda.

            Huda adalah nama pemberian dari ayahku. Ia menilai nama tersebut cocok dan tepat untuk disematkan padaku. Apalagi setelah mendengar komentar positif dari seorang kyai di daerah kami. “Bener kuwi, apik jenenge. Huda iku pituduh”, begitu kata beliau dalam bahasa Jawa. Dengan penamaan ini, tampak ada semacam harapan agar kelak aku bisa menjadi petunjuk, setidaknya untuk orang-orang disekitarku. Aku diharapkan bisa sebagai jalan untuk mengangkat kehidupan keluarga menjadi lebih baik.

            Rahadian, kata yang mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Dari susunan hurufnya pun belum bisa diterka berasal dari bahasa apa kata ini. Namun ini tak berarti bahwa Rahadian hanya kata yang indah didengar namun tak memiliki makna yang spesifik. Ada dua versi cerita untuk mengurai makna dari kata rahadian.

            Pertama adalah versi Ibuku. Tentu karena dialah yang memberikan nama itu kepadaku. Menurut beliau, rahadian berasal dari kata rahardjo, yang berarti keselamatan. Jika kemudian digabung dan diletakkan di belakang kata huda, maka akan memiliki makna sebagai petunjuk keselamatan. Begitu kira-kira arti nama Huda Rahadian versi pertama. Mengapa versi pertama? Karena dalam perjalanan hidupku, aku menemukan arti lain dari kata rahadian.

            Penemuan arti rahadian versi kedua terjadi ketika aku sudah menduduki bangku SMA. Saat itu ibuku yang seorang guru SD habis pulang mengantar murid-muridnya melakukan study tour. Ketika pulang, ia membawa buku kumpulan cerita-cerita daerah yang didapat dari orang yang berjualan di bus. Kebetulan di sekolah ada tugas untuk membuat cerita. Akhirnya, kubacalah buku tersebut untuk mencari inspirasi dan referensi. Hingga tiba di suatu cerita berjudul Asal Mula Reog Ponorogo. Bagaimana mula terjadinya reog ponorogo tak perlu aku ceritakan, karena ada yang lebih menarik untuk diceritakan, yaitu tersebutnya kata rahadian.

            Dalam buku tersebut diterangkan bahwa rahadian adalah gelar yang diberikan kepada putra-putra raja-raja Majapahit. Dalam perkembangannya, rahadian kemudian disingkat menjadi raden. Jika menyimak keterangan di atas, maka rahadian itu sama dengan raden dan sama dengan pangeran. Entah mengapa aku merasa arti rahadian di buku ini lebih tepat dibanding dengan yang pernah ibu sampaikan. Mungkin karena di buku ini nyata tertulis rahadian dengan susunan huruf yang sama persis dengan namaku.

            Aku pun menyampaikan hal ini kepada ibu. Ibuku juga terkejut mengetahuinya. Namun beliau tidak mempermasalahkannya. Lantas ibuku bercerita jika dia dulu suka dengan nama rahadian. Rahadian adalah nama anak dari rekan kerja ibuku yang juga seorang guru. Waktu itu, Ibuku berpikir dan menganggap bahwa rahadian itu berasal dari kata rahardjo.

Kesimpulannya, arti rahadian versi ibu adalah arti yang bersifat anggapan. Oleh karena itu, aku memutuskan mengambil arti rahadian versi buku cerita yang menyatakan bahwa rahadian itu ya raden, raden itu ya pangeran. Dengan demikian Huda Rahadian bisa diartikan sebagai Pangeran yang memberi petunjuk atau diartikan Pangeran yang menjadi petunjuk.

            Terkesan memaksakan memang karena kata rahadian berada di belakang. Yah anggap saja kita melakukan pemaknaan seperti dalam bahasa Inggris bahwa kata yang utama ada di belakang, sementara kata yang di depan sebagai penjelas. Contohnya nih, red car artinya mobil merah bukan merah mobil, atau tall man yang berarti orang tinggi bukan tinggi orang. Jadi wajarlah bila huda rahadian dimaknai seperti yang telah aku sebutkan di atas. Hehehe...

            Dengan adanya makna yang sedemikian rupa, wajarlah bila aku kesal ketika ada orang yang salah menulis namaku. Sejak aku SD sampai sekarang bekerja, masih saja ada orang yang bertindak demikian. Yang paling sering adalah kesalahan menulis rahadian menjadi rahardian. Rahadian itu artinya pangeran, rahardian artinya apa? Baru-baru ini ada juga yang salah menulis nama depanku. Huda ditulis hudah. Huda itu artinya petunjuk, hudah itu artinya apa? Untung tidak ditulis kuda. Hmmmmph....

            Kalau orang Jawa menyikapi hal ini akan bilang, “Ora mbancaki bubur abang putih kok ngganti-ngganti jeneng!” Artinya, orang tidak mengadakan syukuran bubur merah putih (tepatnya coklat putih) kok ganti-ganti nama orang?!

            Terkadang orang menyepelekan hal sekecil ini, padahal beda satu huruf sudah bisa beda maknanya. Ingatlah nama itu berisi doa dan harapan. Jangan membuat doa dan harapan itu melenceng dengan kesalahan menulis satu huruf! Hargai juga orang tua yang mungkin bisa berhari-hari memikirkan nama untuk anaknya. Terima kasih!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar