Minggu, 15 Februari 2015

Rindu Kajian




Assalamu’alaikum wr. wb.

Rutinitas terkadang memasung kita untuk melakukan aktivitas lainnya. Bukan hal yang salah sebab dalam hidup memang perlu skala prioritas. Rutinitas tentu akan selalu menjadi prioritas kita karena adanya tuntutan. Bagi yang bekerja tentu tuntutan untuk menafkahi dirinya sendiri dan keluarga, untuk yang masih sekolah atau kuliah tentu tuntutannya adalah untuk lulus. Pada pembahasan di sini akan saya sempitkan mengenai rutinitas kerja karena memang posisi saya sedang bekerja.

Seperti yang saya sebutkan di atas, kita bekerja karena adanya tuntutan dan hasil yang hendak diperoleh. Dengan bekerja, kita bisa mendapatkan materi apa saja yang kita inginkan. Tentu sesuai kadar yang dihasilkan oleh keringat kita. Namun jujur, meski bisa mendapatkan apa yang kita mau, ingin itu bisa beli, ingin makan ini bisa terwujud, mau jalan-jalan ke sana juga kesampaian, tapi tetap saja ada yang kurang.

Sejak SD kita selalu diajarkan bahwa kebutuhan pokok ada 3, yaitu sandang, pangan, papan. Tapi sebenarnya kebutuhan pokok manusia lebih dari itu. Kebutuhan-kebutuhan yang saya sebutkan di atas tadi adalah kebutuhan untuk fisik kita. Di luar itu, rohani atau jiwa kita juga punya kebutuhan yang mesti dicukupi.

Lalu apa saja kebutuhan itu? Kebutuhan afeksi yang berupa kasih sayang dari orang-orang di lingkungan sekitar, kebutuhan untuk dihargai dan diperlakukan adil, kebutuhan rasa aman, tenang, tentram, dan nyaman. Untuk kebutuhan yang pertama dan kedua dapat diperoleh dari interaksi pergaulan. Sedangkan untuk kebutuhan yang ketiga tidak bisa hanya mengadalkan interaksi pergaulan semata. Rasa aman mungkin bisa diperoleh dengan menerapkan sistem keamanan yang ketat, tapi rasa tenang, tentram, dan nyaman?

Orang yang hidupnya sudah serba berkecukupan secara materi pun belum tentu bisa merasakan tenang, tentram, dan nyaman, karena apa? Karena rasa tenang, tentram, dan nyaman dirasakan oleh hati, oleh rohani, oleh jiwa kita. Orang kaya takut hartanya dicuri, pengusaha takut kalah tender atau nilai sahamnya merosot, dan beragam contoh lain yang mudah ditemukan namun tak bisa disebutkan satu per satu.

Lalu bagaimana agar kita bisa merasakan tenang, tentram, dan nyaman? Karena ketika hal tersebut dirasakan oleh hati kita, maka kita perlu mendekatkan hati kita kepada Sang Pemberi Hati, Allah Ta’ala. Allah sendiri telah menjelaskan hal ini dalam firmannya:

"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. "(QS .  Ar-Ra'du: 28)

Sudah jelas bahwa untuk merasakan ketenangan, kita perlu banyak-banyak mengingat Allah. Lakukan apa saja yang bisa mengingatkan kita kepada Allah, seperti menjaga sholat lima waktu, mengerjakan sholat sunnah, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan menghadiri majelis ilmu.

Sama seperti tubuh kita yang memerlukan makanan, rohani kita juga memerlukan makanan. Apakah makanan untuk rohani kita? Tentu saja ilmu-ilmu yang berguna. Ilmu yang menuntun kita menjalani hidup dengan baik. Meliputi beragam ketentuan dalam Al-Qur’an dan Hadits, tafsir Al-Qur’an dan Hadits dari Imam 4 Mahzab, kisah-kisah keteladan dari Rasulullah dan para sahabat, kisah-kisah keteladanan dari nabi-nabi terdahulu, serta beragam kajian ilmu lainnya. Dengan asupan ilmu tersebut, bukan hanya membuat bertambah ilmu kita, tetapi hati juga akan menjadi tenteram karena dekat dengan Allah, sekaligus menambah motivasi diri untuk menjadi lebih baik.
***

Awal mula saya ikut kajian diajak oleh dua sahabat saya sewaktu kuliah. Sebut saja Bunga. Eh salah, maksud saya Wahyu dan Dwi. Hahaha. Dua orang ini sangat gigih dalam memperdalam ilmu agama. Bahkan kajian yang berada di luar kota pun, mereka tidak mau ketinggalan. Dua orang yang telah berusaha menjalankan syariat secara kaffah dan istiqomah.

Awalnya, saya membayangkan bahwa mengikuti kajian itu membosankan. Bisa dibilang saya masih setengah hati. Maklum, itu karena saya hanya melihat pengajian yang ada di sekitar rumah, di mana topiknya itu-itu saja. Namun saya memiliki alasan lain untuk belajar ilmu agama. Alasan yang mungkin terdengar konyol. Yuph, agar bisa mendekati seorang akhwat KAMMI. (Baca tulisan saya: Keuntungan dan Kerugian Kacamata Ketinggalan).

Menurut saya, akhwat yang saya maksud tersebut memang mempesona. Bukan hanya elok rupa, namun kepribadiannya juga luar biasa. Mengenakan jilbab syar’i dan rok panjang yang memang khas KAMMI, pergaulannya terjaga, serta memiliki ilmu agama yang cukup dalam karena ia dikenal juga sebagai murrabi / pembimbing dakwah.

Dari semua informasi yang saya dapatkan dari teman-teman saya yang juga menjadi temannya, akhlaknya tanpa cela. Dia benar-benar menjaga dirinya dari laki-laki yang bukan mahramnya. Berboncengan sepeda motor dengan laki-laki pun dia enggan.. Selalu saja komentar-komentar positif yang muncul saat saya bertanya tentangnya. Bahkan ketika saya berkunjung ke kosnya, dia mempersilahkan saya duduk di kursi panjang teras kosnya, tapi dia sendiri memilih berdiri. Memang jadi kikuk sih, tapi memang harusnya begitu. Ada hijab / pembatas. Ah, entah mengapa ini justru menjadi tantangan tersendiri buat saya.

Ini bisa menjadi semangat saya untuk belajar agama karena dua hal. Pertama, Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 26 yang menyatakan bahwa wanita baik-baik untuk laki-laki-laki yang baik-baik dan sebaliknya.

" Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). "(QS. An-Nur: 26)

Berangkat dari ayat di atas, maka saya berpikir jika saya ingin mendapatkan istri yang baik-baik, maka saya pun harus menjadi laki-laki yang baik-baik. Kedua, dengan juga mengerti ilmu agama, diharapkan bisa nyambung ketika ngobrol dan mengerti pola-pola pendekatan syar’i. Alasan yang kedua maksain banget. Nggak ada dalam Islam pendekatan syar’i, yang ada ta’aruf, khitbah, lalu akad (kalau salah mohon dilurusin).

Namun begitu ikut kajian sekali, motivasi saya langsung berubah. Saya benar-benar butuh kajian ini karena memang butuh ilmunya. Banyak sekali hal-hal yang ternyata belum saya ketahui. Hal-hal yang selama ini dianggap wajar tetapi ternyata berpotensi menimbulkan dosa.

Dari sini saya pun mulai meluruskan niat dan belajar ilmu ikhlas (ingat film Kiamat Sudah Dekat saat Fandy belajar ilmu ikhlas). Pegangan saya masih surat An-Nur ayat 26. Jika memang pada akhirnya berjodoh tentu alhamdulillah, jika tidak berjodoh setidaknya gara-gara mengejar dia ilmu agama saya jadi meningkat. Kesimpulan lainnya adalah jika tidak berjodoh maka saya belum menjadi laki-laki yang benar-benar baik yang pantas mendapatkan wanita baik-baik seperti dia. Alhamdulillah, akhirnya dia sudah menikah, tapi bukan dengan saya. Hiks...

Dari situ saya jadi tahu tentang beberapa hal yang kurang diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentang varian syirik, bid’ah, tentang memanjangkan jenggot, tentang hukum bersentuhan dengan wanita yang bukan muhrimnya, tentang sholat di mana celana tidak boleh menutupi mata kaki, tentang merapatkan kaki dan bahu saat sholat berjamaah, hukum musik, hukum riba, dan beragam hal lainnya. Saya juga jadi tahu sedikit bahasa Arab, seperti syukron, afwan, jazakallah khairan, waiyyakum, barakallahu, ukhti, akhi, dan sebagainya.

Memang dari apa yang saya tahu itu tidak semuanya sudah diamalkan. Bisa dibilang saya memang masih munafik. Seperti tidak menyentuh wanita yang bukan muhrimnya, misalnya dalam bersalaman. Padahal ada hadits shahih yang melarangnya.

“Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (Hadits Shohih Riwayat. Ar-Ruyany dalam Musnadnya no.1282, Ath-Thobrany 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman no. 4544)

Meskipun perumpamaannya sudah terdengar sangat mengerikan, tetapi tetap saja ini sulit dilakukan. Apalagi saat Lebaran. Ini disebabkan dalam budaya kita bersalaman sudah menjadi hal yang biasa, termasuk antara laki-laki dan wanita. Tentu lebih mudah jika seorang wanita menolak bersalaman daripada seorang laki-laki yang menolak. Nanti bisa menyinggung dan dianggap sombong, sok ustad, dan yang lebih celaka jika dianggap aliran sesat.

Rasulullah sendiri mengajarkan dakwah yang lembut dan untuk itu memang saya belum bisa. Alih-alih berdakwah, dengan cara yang salah bisa jadi orang tersinggung, menjauh, dan menganggapnya sebagai aliran sesat. Jangan sampai apa yang benar justru jadi salah. Yang saat ini bisa dilakukan cuma meminimalisir tidak menyentuh wanita secara sengaja. Cuma kadang ada aja cewek yang gemes terus saya ditepok. Huh! Kepedean! Haha...

Memanjangkan jenggot dulu pernah saya lakukan. Namun memasuki masa-masa pencarian kerja terpaksa jenggot dicukur. Standar muka rapi atau berpenampilan menarik di Indonesia masih sulit mencantumkan jenggot. Alasan lain yang kurang disukai perusahaan karena jenggot identik dengan teroris. Jelas ini ngawur banget tapi itulah persepsi yang berkembang di masyarakat. Padahal memanjangkan jenggot sendiri dianjurkan Rasulullah, salah satunya agar berbeda dengan orang-orang yang musyrik sebagaimana diutarakan dalam hadits berikut:

"Selisihilah orang-orang musyrik. Peliharalah (jangan cukur) jenggot dan cukurlah kumis kalian. "(HR. Al-Bukhari no. 5892)

Untuk musik, dulu memang sempat saya tinggalkan. Kalau sekarang sih, mulai kecanduan lagi. Jika ditanya mengapa? Saya pun sulit menjelaskan. Yang pasti di dunia kita sekarang, kita susah menghindar sedetik pun dari musik karena hegemoni musik sudah menjangkau semua aspek di semua tempat.

Dulu butuh waktu lama saya bisa menerima ketentuan ini. Tidak lain karena sudah menjamur pula musik-musik religi, baik yang modern maupun tradisional. Bahkan tak jarang di acara pengajian pun diselingi dengan pertunjukan musik.

Namun Dwi mengatakan, “Orang yang pintar akan menundukkan akalnya pada Al-Qur’an dan Hadits karena mereka tahu bahwa akal itu memiliki keterbatasan tapi Al-Qur’an dan hadits adalah sumber kebenaran yang hakiki”. Lalu dia membukakan hadits perihal larangan musik.

"Akan ada beberapa kaum dari ummatku yang akan menghalalkan zina, kain sutra (bagi laki-laki), khamar, dan musik." [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary secara mu'allaq, Abu Dawud, Al-Baihaqy, dan Ibnu Hibban dari Abu 'Amir atau Abu Malik Al-Asy'ary]

Iya, memang saya masih munafik banget. Berlumuran dosa pula. Sudah tahu ilmunya masih saja dilanggar. Entah godaan zaman dan pergaulan yang terlalu kuat atau memang iman saya yang terlalu lemah. Cuma saya ingin suatu saat nanti benar-benar menjadi muslim yang kaffah. Untuk saat ini saya masih kesulitan. Mungkin bahasa kesulitan kurang tepat karena terlalu mengada-ada, tapi memang saya tak menemukan kata lain untuk mendeskripsikan yang  saya alami sekarang.

Saat ini rutinitas membatasi gerak saya. Ditambah saya yang belum mengenal kota ini sepenuhnya. Mana tempat yang menyelenggarakan kajian, mana alamatnya. 

Belajar agama saat ini hanya didapat dari membaca artikel on line dan membaca buku. Terkadang jika mendapatkan tugas di KPK, maka sehabis Zuhur baru bisa mengikuti kajian singkat yang diadakan pengurus mushola setempat. Biasanya membahas satu hadits dengan durasi antara 15-30 menit saja. Lumayan untuk menyiram jiwa yang kering.

Memang masih ada cara lain sih mendapatkan ilmu agama. Termasuk jika beruntung memegang program religi semacam Damai Indonesiaku, Hijab Stories, Butiran Ilmu, atau Asmaul Husna. Makanya kalau bisa seluruh urusan crew bisa selesai dulu sebelum shooting, jadi ketika shooting bisa mendegarkan dakwah uztadnya. Pokoknya jangan sampai hidup ini hanya diisi keperluan dunia saja. Siraman rohani memang perlu bahkan sangat perlu untuk menetralisir racun dunia yang semakin menggila.

Ilmu tetaplah ilmu. Kebenaran tetaplah kebenaran. Dakwah yang baik memang disertai dengan keteladanan. Namun dakwah yang tidak disertai keteladanan, bahkan jika pendakwah justru berbuat sebaliknya, jangan ikuti kelakuan pendakwahnya tapi ikuti ilmu benar yang telah disampaikannya.

Bagi saya, nasihat dari seorang  penjahat pun akan saya dengar dan akan saya kerjakan selama nasehatnya memang baik dan benar. Kita bisa belajar ilmu dari siapa saja. Meski memang harus hati-hati. Selama ada dalil kuat dan shahih yang menyertainya, bisa kita terima. Namun jika hanya opini, pendapat, kata si fulan, maka tak perlu didengar serius. Karena agama itu berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, bukan berdasarkan pendapat atau opini.

Akhir kata, saya mohon maaf sekiranya ada kesalahan atau ketidakpantasan yang tersampaikan. Saya hanya manusia kecil nan kotor yang menyimpan asa untuk menjadi muslim yang baik. Oya, kalau ada teman-teman yang tahu tempat kajian rutin di sekitar Jakarta , bisa dishare. Saya benar-benar rindu kajian! Mari sebarkan semangat menuntut ilmu dan berusaha menjadi insan yang lebih baik!


Wasslamu’alaikum wr. wb.

Minggu, 02 November 2014

Masih Mengeluh? Malulah pada Cecak




            Kita mungkin sering mendengar orang yang meratap tentang hidupnya. Mengeluh akan masalah yang sedang menimpanya. Seolah beban hidupnya yang paling berat. Merasa bahwa masalahnya yang paling sulit.

            Memang sudah menjadi menjadi fitrah manusia untuk berkeluh kesah. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’arij ayat 19-27 berikut:

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu  bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.”
            Tapi kawan, apa hubungannya keluh kesah manusia dengan cecak? Mengapa cecak dibawa-bawa? Apakah cecak juga berkeluh kesah?

            Justru karena kecil kemungkinannya cecak berkeluh kesah, maka dibawalah cecak ke dalam tulisan ini. Untuk pastinya, jelas saya belum tahu karena belum pernah mendengar curahan hati dari cecak. Hahaha.

            Cecak seperti kita tahu bersama merupakan binatang melata yang suka merayap di dinding maupun eternit. Reptil yang ukurannya paling kecil.

            Kita pun tahu bahwa makanan utama cecak adalah nyamuk. Bukanlah hal mudah bagi cecak untuk mendapatkatkan makanannya tersebut. Tak lain karena nyamuk bisa terbang sedangkan cecak tidak. Toh begitu kita tidak pernah melihat cecak mati kelaparan. Cecak yang mati gantung diri. Cecak yang menangis di pojok kamar. Apalagi cecak yang update status galau, “Duh, makanan gue mana nih? Dah laper beud, nggak nongol-nongol?! Kalau ada cecak yang update seperti itu, saya langsung berhenti menggunakan media sosial. Hahaha.

            Meski cecak memiliki keterbatasan, ia tidak diam diri. Tidak sempat baginya mengeluh dan mengumpat apalagi meratapi kekurangannya. Ia senantiasa sigap mengawasi pergerakan nyamuk yang beterbangan mencari darah manusia. Apabila ada nyamuk yang lelah terbang, serta mendarat di dekatnya, dengan sigap ia melumat nyamuk tersebut langsung ke mulutnya.

            Pada hakekatnya, semua yang ada di dunia ini sudah diatur oleh Allah. Termasuk rezeki tiap-tiap mahluk juga sudah ditentukan. Tidak mungkin tertukar. Tinggal bagaimana usaha dari setiap mahluk-Nya dalam menjemput rezekinya tersebut. Sebagaimana Allah menerangkan dalam firmannya di Surat Huud ayat 6 berikut:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”
            Jika cecak saja punya keyakinan bahwa dia bisa bertahan hidup dan berkembang biak dengan keterbatasannya, mengapa kita masih pesimis? Kita punya akal dan budi yang bisa kita pergunakan untuk meraih apa yang kita inginkan. Memang tidak ada yang mudah. Namun jika kita sama sekali tak bergerak, tak mungkin apa yang kita inginkan datang begitu saja. Cecak bisa mendapatkan nyamuk setelah dia siaga cukup lama di dinding. Tak hanya tiduran atau bermalas-malasan di sarangnya sambil berharap ada nyamuk yang menyerahkan diri.

            Kawan, tentu kalian juga masih ingat firman Allah dalam Surat Ar-Rad ayat 11 tentang pentingnya berusaha untuk mengubah keadaan yang ada. Sekedar mengingatkan kembali saja, berikut inilah dalilnya:

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Setiap manusia pasti punya keinginan. Kejarlah keinginan itu. Jangan lantas menyerah bila ada penghalang. Sabar dan terus berikhtiar dengan tidak melupakan doa. Wajar manusia mengeluh saat apa yang diusahakan tidak sesuai yang diinginkan. Tapi seperlunya saja. Percayalah  bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Allah sudah memberikan jaminan lewat dalil di atas. Jika belum berhasil, Allah hanya menguji kesabaran dan kegigihan kita mengupayakan apa yang kita inginkan.

Jika cecak yang tak bisa terbang saja tetap bisa makan nyamuk, mengapa kita manusia yang menguasai ilmu dan teknologi masih tak yakin bisa mewujudkan mimpi kita? Masih terjebak dalam kegalauan yang tak perlu, yang justru mengikis semangat kita. Ayo kawan, bangkit! Kita bisa! Malulah sama cecak kalau galau melulu!

Pahamilah...


Tidak ada individu yang terduplikasi. Oleh karena itu setiap individu itu unik. Unik dengan sifat & karakternya masing-masing. PADI mengungkapkannya lewat "Semua Tak Sama".
Berharap seseorang menyerupai sosok imaginer kita adalah kesalahan. Biarkan tiap kita menjadi karakternya masing-masing. Menjadi pelengkap untuk yang lain.
Kita harus bisa memahami. Ketika waktu tak akan terulang. Ketika yang pernah ada menjadi tiada. Itulah dinamika. Dinamika yang memaksa kita menyesuaikan. Melepaskan imaginer kita yang terlalu sempurna. Biarlah apa yang pernah tercipta, terasa dengan sempurna, terbungkus dalam lemari kenangan.
Berharap yang terbaik itu keharusan. Tapi yang terbaik sering tak sejalan dengan alur berpikir kita. Kadang kita juga terlambat menyadari bahwa yang terbaik ada di dekat kita. Kita baru sadar setelah tiada. Nikmati saja hidup kita dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Jangan sampai nanti terucap kalimat perandaian, "Ah, andai saja dulu..."

Selasa, 28 Oktober 2014

Mereka yang Tetap Ada



            Satu lagi kisah haru di perantauan kutulis agar tidak terkikis oleh waktu. Sebuah kisah di penghujung Mei. Kisah yang menguji persahabatan. Kisah tentang kebaikan mereka yang tetap ada saat aku terpuruk. Kisah yang akan aku ingat selamanya. Sengaja aku tulis waktu Hari Raya Idul Qurban untuk mengenang pengorbanan teman-temanku demi aku. Kalaupun pada akhirnya ini diposting sekarang, itu karena ada kendala. Kendala menyelesaikan laporan dulu. Hahaha.

         Malam itu, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Sebagian dari kita telah meninggalkan ruangan kantor. Maklum, itu adalah hari Jumat. Hari di mana sebagian besar karyawan mengakhiri kerjanya dalam seminggu.

           Meninggalkan ruangan tak berarti langsung pulang ke rumah atau kos masing-masing. Tak sedikit yang memilih nongkrong dulu di lobi atau di warung kopi. Menikmati waktu-waktu yang tersisa sebelum libur di esok hari.

         Aku yang semula di ruangan pun menyusul ke depan. Ke warung kopi tepatnya. Warung kopi sederhana dengan sebuah gerobak dan tenda kecil yang disokong dua bilah bambu. Di bawahnya ada bangku panjang untuk para penikmat kopi.

Di sana telah ada Adit, Edi, Lini, Indah, Daus, dan Nendar. Masing-masing menceritakan tentang rencana mengisi akhir pekannya. Aku pun menyimaknya dengan sesekali melontarkan tanggapan atau pertanyaan. Lama nongkrong, tenggorokanku pun merasakan haus. Akhirnya, aku memesan segelas white coffee kepada pemilik warung. Kami pun kembali mengobrol. Tak lama kemudian, pesananku telah jadi. Aku hendak langsung meminumnya, tapi urung karena masih panas. Kutiuplah gelas itu dan tiba-tiba HP-ku berdering. Kuletakkan gelas itu di meja dan kuangkat HP-ku. Ternyata telepon dari rumah.

Aku:    “Halo, Assalamu’alaikum.”
Ibu:     “Wa’alaikumsalam, Aan?”
Aku:    “Iya Bu, ada apa?”
Ibu:      “Kamu di mana?”
Aku:    “Masih di kantor. Baru saja selesai kerja. Ada apa Bu?”
Ibu:      “Baik-baik saja kan?”
Aku:    “Iya, baik-baik saja kok. Ibu bagaimana?”
Ibu:   “Tadi ada orang telepon. Mengakunya itu kamu. Suaranya mirip sekali suaramu. Katanya kamu menabrak orang. Yang satu meninggal, yang satu di rumah sakit. Terus minta uang untuk mengurus polisi, rumah sakit, sama pemakaman.”

Suara Ibuku mulai terdengar parau dan sedikit terisak.

Aku:    “Minta uang berapa? Dikasih?”
Ibu:     “xx juta. Iya, sudah telanjur dikasih. Soalnya suaranya mirip sekali suaramu An.”
Aku:    “Haduuuuh.... Mengapa langsung dikasih?! Mengapa tidak telepon aku dulu?!

Aku pun mulai emosional. Berteriak-teriak di depan gerbang kantorku. Tanganku menghentak-hentak. Begitu pula dengan kakiku. Sesekali tanganku mengacak-acak rambutku. Duduk, jongkok, dan berdiri lagi. Tak mempedulikan gerimis yang menyiramku. Bahkan Satpam kantor sampai menegurku agar aku masuk ke dalam kantor saja tapi aku menampiknya.

Ibu:      “Dia bilang HP-mu disita untuk jaminan.”
Aku:    “Haduuuh....”

Aku mulai tak bisa berkata-kata lagi. Mataku berkaca-kaca. Menyadari tak bisa menjaga keluargaku. Di sisi lain amarahku memuncak. Ingin rasanya menghajar hingga babak belur orang yang tega menipu orang tuaku. Terselip juga kecewa pada orang tuaku. Mengapa mudah sekali ditipu. Padahal mereka juga sudah sering mendengar modus penipuan seperti ini. Namun tak mungkin juga aku memarahi mereka.

Aku:    “Ya sudah Bu. Aku pulang dulu. Nanti kita urus ke polisi.”
Ibu:      “Tidak usah An. Ibu malu kalau nanti jadi ramai.”
Aku:    “Kita harus lapor ke polisi Bu! Aku nggak terima orang tuaku diperlakukan seperti ini!”
Ibu:     “Ya sudah. Hati-hati nanti kalau pulang.”

           Aku pun kembali ke teman-temanku di warung kopi dengan langkah yang gontai. Mereka menatapku dengan tatapan penuh keheranan. Lalu serempak mereka menanyakan apa yang terjadi denganku? Mengapa raut mukaku berubah 180 derajat setelah menerima telepon? Aku pun hanya menjawab singkat bahwa keluargaku terkena musibah.

         Mereka terus merayuku agar aku mau bercerita detailnya. Akhirnya aku pun menceritakan sebagian dari informasi yang kudapat dari telepon tadi. Tak mungkin aku menceritakan semuanya.

          Meski aku hanya menceritakan sebagian, emosiku kembali terguncang. Entah refleks atau apa, tanganku tiba-tiba memukul bambu penyangga tenda kopi. Tentu dengan tenaga ala kadarnya sebab jika sungguhan tentu akan roboh.

“Sabar An”, kata Lini lirih dengan tatapan yang meneduhkan.

          Sebuah kata normatif, namun di situasi seperti ini akan terasa sangat bermakna. Mengompres suasana hati yang sedang bergejolak. Adit dan Edi kemudian mendekatiku. Mereka meminta agar aku tenang dulu lalu menceritakan semua pelan-pelan.

        Belum sempat aku bercerita, justru Adit yang bercerita padaku bahwa adeganku ketika telepon ditonton Pak Uli, bos kami.

Aku:    Emang tadi aku kelihatan lebay banget yaa?”
Adit:    “Iya, mantap banget dah aktingmu tadi. Udah kayak di sinetron-sinetron.”
Aku:    “Terus dia bilang apa?”
Adit:    “Itu Aan kenapa? Kok telepon sambil hujan-hujanan? Nanti sakit. Suruh ke sini aja!”
Aku:    “Terus?”
Adit:    Nggak tahu Pak, tadi dapat telepon terus gitu.”
Aku:    “Sekarang dia pulang?”
Adit:    “Iya, pulang.”

            Sejenak aku terdiam. Tak tahu harus melakukan apa. Aku masih shock dengan apa yang baru saja kudengar. Namun tiba-tiba tersirat sesuatu di dalam pikiranku.

 Aku lalu bertanya pada Edi dan Adit apa mereka mnyimpan nomor telepon petinggi POLRI yang menjadi narasumber? Keduanya menjawab tidak. Lalu aku bertanya pada Indah yang merupakan admin kami. Mungkin saja dia menyimpan nomor telepon narasumber karena sering memeriksa laporan. Indah pun menjawab bahwa nomor telepon narasumber kemungkinan ada di komputer Ratih, mantan admin kami. Aku pun lantas bergegas kembali ke ruangan UPM.

         Mencari nomor telepon petinggi POLRI sengaja aku lakukan untuk antisipasi jika nanti dipersulit ketika membuat laporan ke polisi. Aku pun nanti juga akan mengenakan seragam saat lapor. Biasanya polisi segan dengan awak media.

 Setiba di ruangan, aku langsung mencari file yang dimaksud di bekas komputer Ratih. Alhamdulilah ada nomor teleponnya dan langsung aku simpan di HP. Tak lama kemudian Adit, Edi, Indah, dan Lini menyusulku masuk ke ruangan.

Adit:    “Ada nomornya?” tanya Adit usai membuka pintu.
Aku:    “Iya, ada.” jawabku singkat.

          Mereka kemudian kembali mencecarku dengan pertanyaan mengenai apa yang baru saja menimpa keluargaku. Namun aku masih menjawab seperlunya. Tapi dari sinilah rangkaian kisah mengharukan itu dimulai. Aku jadi melihat sisi lain dari teman-temanku yang selama ini jarang ditampakkan ketika di kantor.

Adit:    “Kena berapa cuy? Itu modusnya kayak yang dialami tanteku.”
Aku:    “Ah... sudahlah.”
Adit:    “Eh berapa? 5 juta ada? 10 juta ada?”

            Aku hanya terdiam ketika ditanya nominal oleh Adit. Tidak mengiyakan tetapi juga tidak menampik. Aku sendiri kaget dengan nominal yang tadi disebutkan oleh Ibuku dan aku tidak ingin teman-temanku juga ikut kaget. Menurutku nominalnya terlalu besar, sangat besar. Biar aku, keluargaku, polisi, dan Tuhan saja yang tahu.

Aku:   “Aku nggak habis pikir, kenapa orang tuaku bisa tertipu ya? Padahal sudah sering mendengar modus yang seperti itu.”
Adit:   “Itu namanya musibah bro. Nggak bisa disalahkan”
Aku:  “Iya sih. Pokoknya aku harus kejar pelakunya! Aku nggak terima orang tuaku diperlakukan seperti itu!”
Edi:    “Wajar... wajar... namanya anak.”

          Edi mencoba memberi pembenaran atas sikapku yang masih terbalut emosi. Sisi dewasanya terlihat. Memang dia paling dewasa diantara kami berlima karena cuma dia yang telah berkeluarga.

Lini:    “Sabar An, sabar. Namanya musibah. Tapi Ibu kamu nggak apa-apa kan?”
Aku:   “Alhamdulillah, nggak apa-apa.”
Lini:    “Setiap peristiwa ada hikmahnya. Uang bisa dicari, tapi kalau nyawa? Untung Ibu Aan nggak diapa-apakan.”
Aku:    “Iya, benar Lin.”
Edi:     “Wah. Itu kalau kata-katanya ada bandrolnya, aku beli.”

      Aku, Edi, dan Adit terbelalak memandang Lini dengan kata-katanya yang baru saja diucapkan. Adit bahkan sampai geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Edi masih terpaku memandang Lini sambil menebar senyum tipisnya dengan posisi kepala dimiringkan. Aku pun dengan senyum kecil namun tak bisa menolak untuk tidak terkesima dengan kata-katanya barusan.

Tidak ada yang menyangka jika Lini yang selama ini cenderung pendiam di kantor bisa mengeluarkan kata-kata bijak seperti itu. Selama ini Lini hanya memanggil anak-anak UPM untuk dua alasan. Pertama, menagih laporan. Kedua, memberikan rembesan. Namun malam itu dia menjelma menjadi sosok yang beda. Seolah ada sayap yang muncul dari punggungnya hingga kata-katanya dan tindak-tanduknya bagaikan malaikat.

          Aku lalu minta tolong Lini untuk mencarikan tiket pesawat buat ke Semarang esok harinya. Aku minta yang dari Halim saja. Dia lantas mengutak-atik komputernya dengan sedikit bantuanku untuk menyebutkan identitasku. Akhirnya sebuah tiket Citilink berhasil dicetak berikut cara pembayarannya.

           Tiba-tiba Irman datang. Dengan senyum tersungging di bibirnya karena melihat Lini dan Indah masih di ruangan. Dia pun berujar dengan percaya dirinya, “Wah, masih pada di kantor nih? Nanti gaji kamu saya naikkan lima kali lipat!” Dia lalu berlalu masuk ke ruangan khusus UPM dan terbelalak ketika melihat GM kami masih ada di dalam ruangan. Senyumnya seketika menghilang tetapi kami yang ada di luar ruangan jadi tertawa terbahak-bahak. Lumayan, sedikit menghiburku.

         Irman yang kemudian mengetahui bahwa aku sedang mencari tiket pesawat dadakan, menyarankan aku agar ke reservasi saja. Adit lalu membawaku ke reservasi sedangkan Indah berpamitan pulang. Di reservasi kami menemui Arbi dan mengutarakan maksudku. Lalu dia mulai membuka komputernya dan mencari tiket demi tiket. Sama seperti yang diupayakan Lini, Arbi pun mendapatkan tiket Citilink. Bedanya Arbi melalui agen dan pembayarannya bisa dititip secara cash ke dia.

         Edi tiba-tiba menyusul menghampiri kami sambil menyerahkan uang rembesan dari Lini. Alhamdulillah, di saat genting seperti ini uang rembesan bisa keluar. Ini pertama kalinya selama jadi UPM, uang rembesan bisa keluar di jam sembilan malam. Subhanallah, Lini benar-benar menjadi malaikatku malam itu.

          Setelah tiket dicetak dan berdiskusi dengan Adit, akhirnya aku memutuskan untuk membayar tiket dari Arbi. Di situ aku tidak ada uang pas meski sebenarnya uang rembesanku lebih dari cukup untuk membayarnya. Seketika itu juga Adit mengeluarkan beberapa puluhan ribu dan menyerahkannya ke Arbi untuk menambal kekurangan pembayaran tiketku. Ia pun tidak mau diganti. Sungguh malam itu aku melihat sosok Adit yang berbeda. Tiba-tiba Lini datang menyusul kami.

Lini:     Gimana An? Dapat tiketnya?”
Aku:    “Alhamdulillah dapat. Makasih yah!”

          Akhirnya kami kembali ke ruangan, mengambil tas, berpamitan pada Irman yang tugas malam, lalu pulang. Sambil berjalan ke parkiran, aku dan Lini saling berbincang. Berbincang mengenai kesamaan garis hidup yang menjadikan kami anak rantau dan anak pertama dalam keluarga. Berbincang mengenai besarnya tanggung jawab kami, tentang kerinduan pada orang tua, dan tentang keinginan membahagiakan mereka yang ada di seberang sana.

Adit dan Edi lalu menghampiri kami dengan motornya masing-masing. Aku membonceng Edi karena tidak membawa motor sementara Lini membonceng Adit. Dalam perjalanan, aku bertanya pada Edi.

Aku:    “Mas, buru-buru nggak?”
Edi:     “Ada apa?”
Aku:    “Aku mau sharing. Aku bingung besok ngomong apa sama orang tuaku.”
Edi:     “Ow ya sudah, Ayo!”

          Edi kemudian mendekatkan motornya ke motor Adit dan mengajak bicara Lini.

Edi:     “Lin, kamu buru-buru nggak?”
Lini:     Nggak, ada apa?”
Edi:     “Aan mau sharing.”
Lini:     “Ow ya sudah. Di mana?”
Edi:     “Cari angkringan aja gimana?”
Adit:    “Iya, di angkringan aja Ed.”

           Aku sempat menegur Edi mengapa mengajak Lini. Kasihan dia, sudah terlalu malam. Apalagi besok subuh dia ada acara. Namun Edi justru mengingatkanku agar aku juga mendapat masukan dari seorang perempuan. Akhirnya, sampailah kami di angkringan yang tak jauh dari perempatan Tugas.

Amgkringan sederhana, dengan beralaskan terpal dan tikar yang digelar di atas trotoar. Sebuah gerobak makan terparkir di sebelahnya. Masing-masing kami kemudian mengambil makanan yang disukai. Aneka sate dan gorengan menjadi jenis makanan yang terbanyak. Sate-sate itupun kemudian dikumpulkan untuk dibakar. Kami pun memesan minuman susu jahe kecuali Adit yang lebih doyan teh manis.

Setelah semua makanan dan minuman tersaji, aku pun memulai pembicaraan.

Aku:   “Teman-teman jujur aku bingung besok harus ngomong gimana ya sama orang tuaku?”
Lini:    “An, nanti kamu jangan marahin Ibu kamu. Dengarkan ceritanya baik-baik. Dihibur biar nggak sedih. Kehilangan uang nggak masalah, yang penting Ibu Bapak Aan nggak apa-apa, Aannya juga nggak apa-apa, nggak seperti yang diceritakan di telepon.
Edi:     “Ini... nih! Kalau ada bandrolnya, aku beli!”
Adit:   “Wuaaah... gileeee...”

          Kembali Edi dan Adit terpesona oleh kata-kata Lini. Aku pun demikian. Bertambah kagum pada pola pikirnya. Kata-katanya terdengar sejuk di telinga. Hatiku yang sedang berkecamuk dibuatnya seolah diolesi es krim. Lini pun hanya tersenyum malu-malu mendengar semua komentar itu.

Aku:   “Padahal aku aja nggak pernah meminta uang sebanyak itu sama orang tuaku. Diberi pun waktu aku pulang selalu aku tolak. Eh ini yang bukan siapa-siapa malah seperti itu. Aku takut kalau ini mengancam keberangkatan haji Ibuku.”
Lini:   “Namanya juga musibah An. Siapa tahu nanti diganti yang lebih besar sama Allah. Kita juga nggak tahu nanti Ibu Aan kalau haji di sana bagaimana? Kenapa-napa atau nggak. Ini rahasia Allah.”
Aku:   “Iya, ada benarnya juga.”
Edi:     “Lin, harganya berapa? Biar aku beli!”
Adit:   “Berapa harganya? Sini, aku bayarin!”

        Lini makin tersipu-sipu mendengar komentar Edi dan Adit sembari menutupkan slayer tipis ke wajahya yang putih. Kontras sekali dengan pekatnya malam itu.

Aku:  “Teman-teman, dengan kejadian seperti ini membuarku berpikir apakah aku harus masih harus bekerja di Jakarta? Aku merasa nggak bisa menjaga orang tuaku. Meski aku juga sadar kalau di Semarang, aku kerja apa? Kebanyakan lowongan kerja di sana cuma sebagai Sales sama Debt Collector.”
Adit:   "Jangan gitu bro. Ini musibah. Bisa menimpa siapa saja. Katakanlah kamu di Semarang nih, tapi kalau kamu nggak kerja, itu justru menambah beban orang tuamu.”
Aku:  “Iya sih, Mas. Tapi kalau aku membawa orang tuaku ke Jakarta, aku belum sanggup. Aku benar-benar merasa nggak bisa melindungi mereka.”
Lini:    “Ini musibah, An! Mau kamu di Semarang, di Jakarta, yang namanya musibah tetap aja bisa datang.”
Aku:   “Benar juga Lin.”

         Lama mengobrol, temggorakanku akhirnya kekeringan. Aku lalu mengambil gelas yang ada di depanku. Meneguk susu jahe yang menjadi menu andalan di angkringan. Namun baru kali itu aku merasakan susu jahe yang tidak terlalu hangat. Masih kalah hangatnya dengan kebersamaan dan perhatian teman-temanku yang mereka curahkan padaku malam itu.

             Kulihat gelas-gelas lain juga tinggal setengah airnya. Makanan hanya tersisa beberapa saja di piring. Lini sudah menyandarkan punggungnya pada dinding toko yang sudah tutup. Adit masih menghisap rokoknya yang tinggal seujung jari. Edi pun demikian, sambil mengutak-atik HP-nya.

           Sungguh malam yang berat untukku. Di saat kerjaan sedang banyak-banyaknya, justru dibenturkan dengan situasi yang seperti ini.

Aku:    “Laporan numpuk. Ada aja masalah kayak begini.”
Adit:   “Udah pulang An. Pulang aja dulu. Tenangin orang tuamu. Masalah laporan gampang. Dikerjakan nanti aja bisa. Masalah jadwalmu besok, biar aku sama anak-anak yang handle. Pokoknya kamu selesaikan dulu masalahmu di kampung.”
Aku:    “Iya sih Mas, aku kalau tidak pulang juga nggak bisa kerja dengan tenang. Makasih ya Mas.”
Adit:   Udah, santai saja.”

        Subhanallah, baru pertama aku melihat Adit sebijaksana ini. Lain dari kesehariannya. Malam itu tidak nampak sikap arogannya yang suka membentak-bentak orang. Tutur katanya begitu meneduhkan meski tetap disampaikan dengan suara serak-serak ala rocker. Rocker yang tersedak nasi bebek. Hahaha.

           Hatiku mulai tenang dengan wejangan dari teman-temanku tadi. Namun masih ada sedikit resah yang terselip manakala mengetahui HP-ku ternyata telah mati sedari tadi.

Aku:    “Mas Edi, ada power bank nggak? HP-ku mati. Takut kalau ada kabar dari rumah.”
Edi:     “Ini.” Sambil ia menyerahkan powerbank-nya kepadaku.

         Ternyata benar, ketika HP menyala, ada sms dari bapakku. Intinya mengabarkan kalau kondisi Ibu sudah istirahat, sudah tidak terlalu shock. Peminjaman powerbank yang hanya beberapa menit namun sangat berarti. Setidaknya menepis galauku untuk sementara waktu.

          Malam mulai beranjak pagi. Raut muka lelah semakin jelas terpampang di wajah kami. Jalanan mulai sepi. A ngkringan pun sudah mau tutup. Mau tak mau kami harus enyah dari sana. Adit membereskan apa saja yang kami makan dan ia tak mau diganti.

Ketika hendak pulang, Lini kembali membuat hal yang mengejutkanku. Ia ingin mengantarkanku ke kosan. Aku sudah bilang padanya bahwa itu tak perlu namun dia tetap memaksa. Nampaknya dia masih mengkhawatirkanku. Jadilah empat orang perantauan duduk di atas dua motor menuju ke kosanku. Empat orang perantauan yang mencoba mencari arti bahagia di ibukota. Menyatu karena rasa yang sama. Rasa ingin menikmati hidup.

Edi:    “Sudah, tidak apa-apa, kalau biasanya kamu yang mengantarkan dia, biarkan dia ganti sekali-kali mengantarkan kamu.”
Aku:    “Ya sudah jika maunya begitu.”

           Sesampainya di depan kosan, aku turun dan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Sungguh itu malam yang menguras emosiku. Aku marah, sedih, tapi juga terharu atas sikap yang diperlihatkan teman-temanku. Terima kasih teman, aku senang dan bangga punya teman seperti kalian. Terima kasih juga buat Isra yang sudah mau bertukar jadwal denganku di saat aku sudah tidak tahu lagi harus bertukar jadwal dengan siapa.

Ujian sesungguhnya bagi persahabatan bukanlah yang ada di saat kita senang tetapi yang tetap ada di saat kita mengalami kesusahan. Ini sungguh ironi mengingat beberapa hari sebelumnya kita masih sempat tertawa lepas, menyanyi sambil bergoyang, diikuti colek-colekan sambal di dalam ruang karoeke. Namun seketika berubah 180 derajat setelah mendapatkan telepon dari rumah. Memang hidup itu seperti roda yang terus berputar. Kadang di atas, kadang di bawah.

Kawan, jangan pernah sungkan memintaku membantu kalian ketika kalian mengalami kesulitan. Apa yang bisa aku lakukan, pasti aku lakukan. Bahkan jika harus meneteskan darah demi kalian. Tapi darahnya, darah nyamuk aja yach?! Hahaha.

Aku sangat beruntung mempunyai teman-teman seperti kalian. Kalianlah keluargaku di Jakarta. Sabar menasehati, tak lelah memberikan motivasi. Selalu membuatku tersenyum dengan beragam tingkah dan polah kalian. Kalian terlalu berharga untukku. Sangat berharga. Jika gadget bisa kita cari kapanpun dan di manapun kita mau, tapi teman seperti kalian? Tidak mudah ditemukan.  Benar kata Sheila on 7, “Arti Teman Lebih Dari Sekedar Materi”.

 Kawan, ada sebuah hadits yang menarik dari Rasulullah saw. Hadits yang menceritakan tentang keutamaan seseorang yang telah berbuat baik kepada sesamanya. Diriwayatkan dari Jabir, Rasulullah saw bersabda,”Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Kawan, semoga kalian termasuk orang-orang yang dimaksud oleh hadits ini.